Kritik tajam datang dari komedian asal Afrika Selatan, Trevor Noah, yang menyoroti adanya ketimpangan perlakuan media Barat terhadap tim sepak bola dari kawasan Afrika dan Timur Tengah dibandingkan dengan tim Eropa. Dalam sebuah acara nonton bareng Piala Dunia, Noah mempertanyakan mengapa pemain dari negara-negara tertentu terus-menerus dipaksa bertanggung jawab atas kebijakan pemerintah mereka, sementara pemain dari negara Barat cenderung dibiarkan fokus sepenuhnya pada olahraga.
Fenomena ini menyoroti hierarki yang sudah lama mengakar dalam jurnalisme global. Di satu sisi, pemain dari negara maju sering dianggap sebagai atlet murni, sementara pemain dari negara berkembang atau kawasan yang dianggap 'bermasalah' secara politik sering kali diposisikan sebagai duta politik, tertuduh, atau objek moral. Hal ini merusak narasi bahwa Piala Dunia adalah ajang di mana sepak bola melampaui politik.
Klaim bahwa olahraga terpisah dari politik hanyalah mitos. Sejarah mencatat bahwa boikot dan larangan berkompetisi sering kali diterapkan secara selektif. Rusia dilarang karena invasi ke Ukraina, dan Afrika Selatan pernah dikucilkan karena kebijakan apartheid. Namun, negara seperti Israel tetap diizinkan berkompetisi meski menghadapi berbagai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia dan pendudukan wilayah di Palestina, Lebanon, dan Suriah.
Ketimpangan ini juga terlihat dari bagaimana media memilih isu untuk dipertanyakan kepada tim tertentu. Dalam pertandingan yang melibatkan Iran dan Mesir, jurnalis terus mendesak pemain terkait isu hak LGBTQ, bahkan setelah FIFA menyatakan bahwa pemain hanya ingin fokus pada pertandingan. Di sisi lain, pemain Amerika Serikat atau Inggris hampir tidak pernah diminta untuk mengomentari kebijakan luar negeri negara mereka, seperti perang, krisis perbatasan, atau kebijakan rasisme domestik.
Media sering kali membingkai diri mereka sebagai pengawas kekuasaan, namun dalam kasus ini, mereka justru tampak mengadopsi asumsi kekuasaan yang sama. Perdebatan mengenai kelayakan tuan rumah Piala Dunia 2018 di Rusia atau 2022 di Qatar sangat masif, namun pengawasan serupa tidak diberikan kepada Amerika Serikat sebagai tuan rumah turnamen saat ini, meskipun negara tersebut terlibat dalam berbagai aksi militer di luar negeri.
Pada akhirnya, jurnalisme olahraga harus melakukan refleksi diri. Pertanyaan kritis mengenai hak asasi manusia, perang, dan diskriminasi memang sangat penting untuk diajukan. Namun, ketika pertanyaan sulit tersebut hanya menjadi ritual yang dikhususkan bagi negara-negara tertentu berdasarkan asal paspor mereka, maka jurnalisme tersebut kehilangan kredibilitasnya sebagai institusi yang objektif dan adil.