Seorang kapten pilot Air India yang menerbangkan pesawat rute Phuket-Delhi resmi dinyatakan positif mengonsumsi ganja. Hasil ini keluar melalui serangkaian tes laboratorium konfirmasi, menyusul insiden teknis di mana pesawat Airbus A320neo yang ia kendalikan mengalami penurunan ketinggian mendadak sekitar 300 kaki saat melintasi wilayah Odisha, India, pekan lalu.
Insiden tersebut mengakibatkan 13 penumpang dan empat kru mengalami cedera. Pesawat yang mengangkut total 137 penumpang dan delapan kru tersebut akhirnya mendarat dengan selamat di Delhi, namun otoritas penerbangan India segera meluncurkan penyelidikan mendalam terhadap prosedur keselamatan maskapai dan kondisi fisik awak pesawat.
Kementerian Penerbangan Sipil India telah memanggil CEO Air India, Campbell Wilson, untuk dimintai keterangan terkait pelanggaran standar operasional ini. Pemanggilan ini menjadi sinyal keras bagi maskapai yang kini berada di bawah naungan Tata Group tersebut mengenai pentingnya pengawasan ketat terhadap kesehatan mental dan fisik kru penerbangan.
Sebelum hasil laboratorium keluar, pihak maskapai sempat menyatakan bahwa mereka belum menerima informasi resmi mengenai hasil tes awal. Namun, temuan positif ganja ini memperumit posisi manajemen di mata regulator. Kasus ini menyoroti celah dalam protokol skrining zat psikoaktif yang seharusnya menjadi benteng utama dalam keselamatan penerbangan global.
Penggunaan zat psikoaktif di kalangan awak pesawat merupakan pelanggaran berat terhadap regulasi keselamatan penerbangan internasional. Pilot memiliki tanggung jawab penuh atas nyawa ratusan orang di udara, sehingga kondisi kesadaran yang terganggu oleh zat terlarang menjadi ancaman fatal bagi keamanan penerbangan.
Di Indonesia, regulasi mengenai tes kesehatan kru pesawat diatur secara ketat oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara melalui tes kesehatan berkala. Pilot di Indonesia diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan komprehensif, termasuk skrining narkoba secara acak guna memastikan tidak ada pilot yang berada di bawah pengaruh zat terlarang saat bertugas.
Kasus Air India ini menjadi pelajaran berharga bagi maskapai domestik di Indonesia untuk terus memperketat pengawasan internal. Meskipun teknologi skrining di Indonesia terus berkembang, konsistensi dalam melakukan tes acak menjadi kunci utama agar insiden serupa tidak terjadi di ruang udara tanah air.
Industri penerbangan nasional perlu melihat peristiwa ini sebagai pengingat bahwa keselamatan penumpang tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi pesawat, tetapi juga pada integritas fisik dan mental individu yang berada di kokpit. Pengawasan yang longgar sekecil apa pun dapat berujung pada tragedi yang tidak diinginkan.
Sejauh ini, pihak Air India belum memberikan keterangan resmi lebih lanjut terkait langkah disipliner yang akan diambil terhadap sang kapten. Namun, tekanan publik di India terus meningkat agar maskapai memberikan sanksi tegas demi menjaga kepercayaan penumpang.
Kejadian ini juga memicu debat mengenai prosedur standar tes narkoba bagi awak pesawat di Asia. Beberapa pengamat industri penerbangan menyarankan agar tes laboratorium konfirmasi dilakukan lebih cepat dan transparan guna meminimalisir spekulasi di tengah masyarakat.
Langkah selanjutnya bagi pihak berwenang di India adalah menyelesaikan investigasi teknis untuk memastikan apakah penurunan ketinggian pesawat memang murni kesalahan manusia akibat pengaruh zat, atau ada faktor teknis lain yang berkontribusi. Hasil akhir investigasi ini akan menjadi standar baru dalam penanganan kasus serupa di masa depan.
Industri penerbangan global kemungkinan akan mengamati hasil akhir kasus ini dengan seksama. Jika terbukti bahwa pengaruh ganja menjadi penyebab utama gangguan teknis, maka protokol skrining kesehatan pilot di seluruh dunia mungkin akan mengalami revisi yang jauh lebih ketat, termasuk frekuensi tes yang lebih sering.