Para pekerja ritel di Plaza Singapura tengah menghadapi masa depan yang tidak menentu seiring dengan rencana renovasi besar-besaran mal tersebut. Proyek yang menelan biaya sekitar S$160 juta ini dijadwalkan akan dimulai pada Agustus 2026 mendatang. Ketidakpastian ini muncul di tengah kurangnya informasi yang diterima oleh para staf lapangan terkait nasib toko tempat mereka bekerja selama masa konstruksi berlangsung.
Berdasarkan surat edaran dari operator mal, CapitaLand, kepada para penyewa, proyek ini akan dibagi menjadi tiga fase utama yang berlangsung dari Agustus 2026 hingga Oktober 2028. Fase pertama akan fokus pada penataan ulang unit ritel dan gerai makanan di lantai satu, serta perbaikan jembatan penghubung dan area umum. Pihak pengelola menegaskan bahwa meskipun renovasi dilakukan, mal akan tetap beroperasi secara normal untuk pengunjung.
Fase kedua yang dijadwalkan antara Maret 2027 hingga Maret 2028 akan menyasar lantai satu dan lima, termasuk pembaruan eskalator dan travellator. Sementara itu, fase ketiga yang dimulai pada Februari 2028 akan difokuskan pada perombakan area basement. CapitaLand mengklaim telah berupaya meminimalisir gangguan operasional bagi para penyewa selama periode pembangunan berlangsung.
Namun, di lapangan, kondisi tampak berbeda. Hasil pemantauan menunjukkan beberapa gerai sudah ditutup dan dipasang papan penutup di lantai satu, dua, dan tiga. Sejumlah karyawan mengaku belum menerima arahan jelas dari manajemen toko mereka mengenai langkah selanjutnya, apakah mereka akan direlokasi atau kontrak kerja mereka akan berakhir akibat penutupan toko selama renovasi.
Menanggapi keresahan tersebut, juru bicara CapitaLand menyatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi secara progresif dengan para penyewa sejak awal tahun. Pihak manajemen mengklaim telah bekerja sama dengan setiap penyewa untuk mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka, termasuk opsi relokasi di dalam area mal guna menjaga keseimbangan tenant dan pengalaman berbelanja pengunjung.
Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif peningkatan aset (Asset Enhancement Initiative/AEI) yang bertujuan untuk menyegarkan kembali daya tarik Plaza Singapura di tengah persaingan ritel yang semakin ketat. Meski pengelola menjanjikan kelangsungan bisnis, para pekerja tetap berharap adanya transparansi lebih lanjut agar mereka dapat mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang akan terjadi selama dua tahun ke depan.