Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Jakarta Timur menggelar pelatihan intensif bagi kader juru pemantau jentik atau Jumantik guna menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah tersebut. Kegiatan yang berlangsung Jumat pekan ini membekali relawan, staf PMI, dan kader aktif dengan strategi deteksi dini serta pengendalian berbasis komunitas.
Pelatihan tersebut merupakan implementasi dari Mosquito Borne Disease Prevention Program (MBDPP) yang dijalankan PMI bersama sejumlah mitra. Fokus utamanya ialah Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) dan penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait dengue. Ketua PMI Kota Jakarta Timur Bambang Pangestu menekankan bahwa kapasitas warga dalam mendeteksi jentik nyamuk sejak dini menjadi kunci utama pencegahan.
Lonjakan kasus DBD di Jakarta Timur menjadi latar belakang urgensi program ini. Data PMI mencatat 1.951 kasus terkonfirmasi sejak Januari hingga pertengahan Juni 2026. Kecamatan Cakung menyumbang angka tertinggi dengan 360 kasus, sementara Makasar tercatat terendah yakni 113 kasus. Angka tersebut mencerminkan beban penyakit tular vektor yang masih tinggi di ibu kota.
Kondisi geografis turut memperbesar risiko. Jakarta Timur mencakup sebagian Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang rawan genangan dan permukiman padat. Perubahan iklim, termasuk dampak El Nino yang sempat diingatkan Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, memperpanjang masa inkubasi nyamuk penular dan memicu potensi KLB jika masyarakat abai.
Pendekatan berbasis komunitas dipilih karena pengendalian vektor tidak cukup hanya mengandalkan fogging dari pemerintah. Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) lewat gerakan 3M Plus perlu berakar di tingkat rukun warga dan rukun tetangga. Kader Jumantik menjadi ujung tombak yang memantau bak mandi, talang air, dan wadah tak terpakai pekanan.
Dampak pelatihan ini melampaui sekadar penurunan angka klinis. Masyarakat di wilayah rawan mendapatkan sistem peringatan dini yang lebih tangkas sebelum kasus menumpuk di fasilitas kesehatan. Koordinasi antara kader, puskesmas, dan kelurahan diperkuat sehingga penanganan larva tidak tertunda hingga muncul wabah.
Bagi ekosistem kesehatan masyarakat Indonesia, model Jumantik telah lama menjadi instrumen penting. Namun, mutu pendampingannya kerap tidak merata antardaerah. Pelatihan bertipe SBM yang memadukan diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi seperti di Jaktim dapat menjadi standar nasional agar kader tidak sekadar mencatat, tetapi mampu berkomunikasi risiko.
Metode pembelajaran partisipatif digunakan selama program berlangsung. Peserta mengikuti tes awal dan akhir untuk mengukur pemahaman mengenai pengendalian KLB, surveilans, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di komunitas masing-masing. Pendekatan evaluatif ini memastikan bekal teknis benar-benar terserap, bukan sekadar sertifikat pelatihan.
“Melalui kegiatan ini, PMI Kota Jakarta Timur berharap para kader jumantik, relawan, dan staf PMI mampu meningkatkan kapasitas dalam melakukan deteksi dini,” ujar Bambang Pangestu. Ia menambahkan bahwa peserta juga diharapkan memperoleh wawasan komprehensif soal strategi pencegahan dengue serta memperkuat koordinasi dengan fasilitas kesehatan setempat.
Bambang menuturkan materi pelatihan mencakup konsep dasar pengendalian KLB, SBM, pengendalian vektor, komunikasi risiko, dan perencanaan aksi komunitas. Harapannya, bekal tersebut menjadikan peserta sebagai penggerak edukasi yang mandiri saat musim penghujan tiba.
Ke depan, PMI Jaktim akan menerjunkan lulusan pelatihan sebagai pendamping di wilayah masing-masing, terutama di Cakung yang angka DBD-nya paling tinggi. Sinergi dengan mitra penguatan ketangguhan penyakit tular vektor bakal diperluas ke DAS Ciliwung secara lintas kelurahan.
Tren pencegahan DBD di Jakarta diproyeksikan bergeser dari responsif ke preventif. Penguatan kader Jumantik berskala masif seperti ini diperkirakan menekan biaya perawatan rumah sakit akibat DBD serta melindungi produktivitas warga di pusat pertumbuhan timur ibu kota.
Perspektif Indonesia: Program kader Jumantik sebenarnya sudah ada di hampir seluruh provinsi sejak era Depkes dulu, tetapi banyak yang dorman pasca-pandemi. Model pelatihan SBM berbasis simulasi dari Jaktim layak diadopsi Kemenkes sebagai protokol recovery nasional. Masyarakat Indonesia yang padat dan beriklim tropis sangat bergantung pada deteksi jentik mingguan karena vaksin dengue belum merata di layanan publik. Keberhasilan di DAS Ciliwung dapat menjadi bukti bahwa pencegahan berbasis komunitas lebih hemat daripada fogging rutin yang kerap kehilangan efektivitas.