Presiden terpilih Kolombia, Abelardo de la Espriella, secara resmi menyatakan komitmennya untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel. Keputusan ini diambil menyusul pemutusan hubungan yang dilakukan pemerintahan sebelumnya akibat konflik yang terjadi di Gaza. De la Espriella, yang merupakan sosok pendatang baru dari spektrum politik sayap kanan, memenangkan pemilihan putaran kedua pada 21 Juni lalu.
Dalam sebuah percakapan diplomatik melalui media sosial, de la Espriella mengungkapkan apresiasinya atas panggilan telepon dari Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar. Ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, Kolombia akan membangun kembali kemitraan yang kuat dengan Israel. Ia menyebut Israel sebagai sekutu setia dan sahabat sejati bagi negaranya.
Langkah ini menandai pergeseran arah kebijakan luar negeri Kolombia yang sangat kontras dengan era pemerintahan Gustavo Petro. Petro, yang merupakan presiden sayap kiri pertama di Kolombia, dikenal sebagai pengkritik vokal terhadap tindakan Israel di Gaza sejak perang pecah pada Oktober 2023. Petro bahkan sempat melabeli tindakan Israel sebagai genosida, yang memicu ketegangan diplomatik yang tajam antara kedua negara.
Selama masa jabatannya, Petro secara konsisten menyuarakan kritik terhadap kebijakan Israel dan Amerika Serikat terkait hak asasi manusia. Retorika tajam Petro, termasuk perbandingan kebijakan Israel dengan retorika Nazi, sempat menyebabkan Israel menghentikan ekspor keamanan ke Kolombia dan menuduh Petro melakukan tindakan antisemitisme. Ketegangan ini mencapai puncaknya hingga pemutusan hubungan diplomatik secara formal.
Kemenangan de la Espriella dipandang sebagai titik balik strategis bagi diplomasi Kolombia di panggung internasional. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyambut baik perubahan ini dan menyatakan harapannya agar aliansi antara kedua negara dapat menjadi lebih kuat dari sebelumnya, serta mengakui de la Espriella sebagai teman sejati bagi rakyat dan negara Israel.
Perubahan kebijakan ini diperkirakan akan memengaruhi posisi Kolombia dalam dinamika geopolitik global, terutama terkait konflik di Timur Tengah. Dengan kembalinya hubungan diplomatik ini, Kolombia kini bersiap untuk menata ulang kemitraan strategisnya dengan Israel, mengakhiri periode isolasi diplomatik yang sempat berlangsung di bawah pemerintahan sayap kiri sebelumnya.