Netflix merilis perkiraan pendapatan dan laba untuk kuartal ketiga yang berada di bawah target analis Wall Street, Kamis (16/7) di Los Angeles. Perusahaan juga mengumumkan pengurangan pelaporan jam tayang kepada publik seiring upaya mencari sumber pertumbuhan baru.
Raksasa streaming tersebut memproyeksikan pendapatan 12,86 miliar dolar AS untuk periode Juli hingga September, serta laba per saham (EPS) dilusian 82 sen. Data dari LSEG menunjukkan analis mematok pendapatan 13 miliar dolar AS dan EPS 84 sen. Selisih kecil itu cukup membuat pasar waspada karena Netflix selama bertahun-tahun menjadi acuan performa industri hiburan digital.
Pada kuartal yang baru berakhir, Netflix mencatatkan performa yang hampir sejalan dengan estimasi. EPS berada di angka 80 sen dengan pendapatan 12,56 miliar dolar AS. Sejumlah tayangan andalan seperti drama kriminal "I Will Find You" dan film animasi "Swapped" membantu menopang angka tersebut.
Perseroan menyatakan akan menghentikan rilis laporan jam tayang dua kali setahun dan beralih ke sekali tahunan mulai Januari 2027. Langkah itu diambil agar fokus perusahaan kembali ke metrik keuangan utama, yakni pendapatan dan laba operasi. Sebelumnya, pada 2025, Netflix sudah berhenti memublikasikan jumlah pelanggan per kuartal.
Keputusan transparansi yang dikurangi ini terjadi di tengah tekanan kompetisi yang makin padat. Disney sebagai pemain media tradisional masih agresif, sementara YouTube makin dominan di ruang keluarga. TikTok pun menggerus perhatian penonton lewat konten pendek di perangkat seluler.
Sebelum laporan keuangan dirilis, nilai saham Netflix anjlok lebih dari seperlima karena investor cemas soal strategi mendongkrak pendapatan dan merekrut pelanggan baru. Padahal April lalu perusahaan mengklaim punya lebih dari 325 juta anggota berbayar dan masih punya ruang untuk tumbuh.
Bagi pembaca di Indonesia, tren ini relevan karena Netflix termasuk layanan paling banyak digunakan di tanah air. Penurunan transparansi data global berarti pengguna lokal sulit menilai seberapa besar porsi penonton Indonesia dalam statistik mereka. Hal itu berbeda dengan platform seperti Vidio atau Disney+ Hotstar yang masih rutin membagikan angka pertumbuhan regional.
Persaingan di Indonesia juga makin ketat. Meski Netflix membangun bisnis iklan dan game, keduanya masih tahap awal. Sementara itu, layanan lokal mulai menyematkan iklan di tayangan gratis dan mengembangkan konten original berbiaya efisien. Jika Netflix mengerem informasi, operator lokal justru bisa memanfaatkan celah kepercayaan publik.
"Kinerja keuangan kami tetap solid dan kami berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahun ini," tulis manajemen Netflix dalam surat kepada pemegang saham. Pernyataan itu dimaksudkan menenangkan pasar meski proyeksi kuartal depan di bawah ekspektasi.
Engagement atau waktu yang dihabiskan penonton disebut perseroan masih sehat. Jam tayang tumbuh 2 persen pada paruh pertama tahun ini, lebih baik dari 1,5 persen pada periode sama tahun lalu. Angka itu menjadi pelipur lara di tengah skeptisisme soal pendapatan iklan yang belum maksimal.
Netflix mempertahankan ramalan pendapatan iklan 3 miliar dolar AS di akhir tahun. Mereka mengandalkan acara langsung, termasuk tambahan pertandingan NFL, untuk menarik pengiklan. Strategi itu berisiko jika biaya produksi live event membengkak tanpa konversi iklan memadai.
Ke depan, fokus Netflix pada metrik finansial ketimbang jumlah penonton akan mengubah cara analis menilai layanan streaming. Pengguna Indonesia mungkin akan melihat penyesuaian harga atau bundling dengan operator telekomunikasi sebagai cara perusahaan memoles pendapatan. Transisi ke pelaporan tahunan jam tayang mulai 2027 menjadi sinyal bahwa era pertumbuhan pelanggan murah sudah usai.