Internasional

Puncak Permintaan Minyak China Diprediksi Segera Tiba di Tengah Ekspansi Kendaraan Listrik

Puncak Permintaan Minyak China Diprediksi Segera Tiba di Tengah Ekspansi Kendaraan Listrik

Ringkasan

  • Permintaan minyak mentah China diprediksi mencapai puncaknya tahun ini seiring masifnya adopsi kendaraan listrik dan pergeseran kebijakan energi nasional.

Permintaan minyak mentah China diproyeksikan akan mencapai titik puncaknya pada tahun ini. Kepastian ini disampaikan langsung oleh para eksekutif dari perusahaan minyak terbesar di negara tersebut, menandai perubahan signifikan dalam peta pasar energi global yang selama ini sangat bergantung pada konsumsi dari importir minyak terbesar di dunia ini.

Zhang Changbao, Wakil Presiden China National Petroleum Corporation (CNPC) Asia-Pasifik, mengungkapkan dalam sebuah acara di Hong Kong bahwa perlambatan permintaan ini dipicu oleh penurunan penggunaan bahan bakar transportasi konvensional. Meski kebutuhan di sektor petrokimia masih menunjukkan peningkatan, namun laju penurunan konsumsi bahan bakar transportasi jauh lebih dominan dalam menekan angka permintaan minyak secara keseluruhan.

Transformasi energi yang agresif menjadi motor utama perubahan ini. Pemerintah China telah mencurahkan upaya besar-besaran dalam pengembangan energi terbarukan serta perombakan sektor transportasi nasional. Saat ini, China telah mengukuhkan posisinya sebagai produsen sekaligus pengguna kendaraan listrik (EV) terbesar di dunia, yang secara langsung mengurangi ketergantungan negara tersebut pada bahan bakar berbasis minyak bumi.

Di sisi lain, China kini menghadapi tantangan domestik baru berupa kelebihan kapasitas kilang minyak. Dai Jiaquan, Kepala Ekonom di Institut Penelitian Ekonomi dan Teknologi CNPC, mencatat bahwa permintaan minyak mentah domestik saat ini diperkirakan berada di angka 750 hingga 800 juta ton per tahun. Angka tersebut jauh di bawah total kapasitas kilang yang mencapai 900 juta hingga 1 miliar ton, sehingga menciptakan ketidakseimbangan pasokan di pasar domestik.

Situasi pasar energi global juga dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, khususnya gangguan di Selat Hormuz. Ketegangan di wilayah tersebut telah mengubah pola suplai dan permintaan sepanjang tahun ini, yang awalnya diprediksi akan mengalami surplus, justru berbalik menjadi defisit pasokan di pasar internasional. Hal ini menambah kompleksitas bagi strategi energi China ke depannya.

Dengan kondisi kelebihan kapasitas kilang yang nyata, China kini berada di persimpangan jalan kebijakan energi. Strategi transisi menuju kendaraan listrik dan energi hijau tidak hanya bertujuan untuk mencapai target emisi nol bersih, tetapi juga menjadi langkah krusial dalam menata ulang struktur industri minyak mereka agar lebih efisien dan selaras dengan pergeseran permintaan global yang semakin meninggalkan bahan bakar fosil.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran China menuju kendaraan listrik menjadi sinyal kuat bagi industri otomotif dan energi Indonesia untuk mempercepat hilirisasi nikel serta infrastruktur pendukung EV. Penurunan permintaan minyak dari importir terbesar dunia ini juga berpotensi mengubah stabilitas harga minyak dunia yang berdampak langsung pada biaya logistik dan inflasi di Indonesia.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
7 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit