Federal Energy Regulatory Commission (FERC) secara resmi menginstruksikan operator jaringan listrik untuk mempercepat proses interkoneksi bagi pusat data dan pengguna listrik skala besar lainnya. Kebijakan ini mewajibkan enam operator jaringan utama untuk memastikan bahwa fasilitas pusat data dapat terhubung ke sistem transmisi secara tertib dan tepat waktu. Seluruh biaya yang timbul dari proses interkoneksi ini akan menjadi tanggung jawab penuh dari pihak pusat data yang mengajukan permohonan.
Dalam keputusan yang disetujui secara bulat oleh para komisaris, FERC juga membuka peluang bagi perusahaan rintisan teknologi jaringan untuk menawarkan solusi inovatif. Operator jaringan kini diinstruksikan untuk mempertimbangkan penggunaan teknologi transmisi alternatif, seperti transformator solid-state atau saluran transmisi superkonduktor, guna meningkatkan efisiensi distribusi energi di tengah lonjakan permintaan yang masif.
Operator jaringan listrik saat ini diberikan tenggat waktu selama 30 hari untuk menyerahkan laporan mengenai kapasitas pembangkit listrik yang tersedia. Selain itu, mereka memiliki waktu 60 hari untuk melakukan tinjauan ulang atau revisi terhadap tarif listrik di wilayah operasional masing-masing. Kebijakan ini juga mendorong operator untuk lebih fleksibel dalam mengakomodasi skema daya di balik meter (behind-the-meter) untuk mendukung kebutuhan operasional pusat data.
Meskipun kebijakan ini memberikan jalur cepat bagi konektivitas, para ahli mencatat bahwa tantangan mendasar mengenai kekurangan kapasitas pembangkit listrik belum terselesaikan sepenuhnya. Data menunjukkan bahwa per akhir tahun 2023, permintaan koneksi jaringan oleh pembangkit listrik baru telah melampaui kapasitas total armada pembangkit yang ada, menciptakan antrean panjang yang menghambat stabilitas pasokan energi nasional.
Permintaan listrik dari pusat data diproyeksikan akan meningkat hingga tiga kali lipat menjelang tahun 2035, menempatkan beban berat pada operator jaringan yang selama dua dekade terakhir terbiasa dengan pertumbuhan permintaan yang stagnan. Lonjakan ini telah memicu kenaikan harga listrik grosir hingga 267% dibandingkan lima tahun lalu, yang berdampak signifikan pada biaya operasional di berbagai sektor industri di Amerika Serikat.
Dorongan kebijakan ini dipicu oleh kekhawatiran dari Sekretaris Energi Chris Wright mengenai dampak penundaan koneksi jaringan terhadap daya saing Amerika Serikat dalam pengembangan kecerdasan buatan. Di sisi lain, pemerintah juga mulai melakukan restrukturisasi kebijakan energi dengan mengalihkan fokus dari proyek angin lepas pantai ke arah pembangunan pembangkit listrik berbasis gas alam dan panas bumi untuk mengamankan ketahanan energi jangka panjang.