Internasional

Raja Charles III Putuskan Tidak Menetap di Istana Buckingham Usai Renovasi

Raja Charles III Putuskan Tidak Menetap di Istana Buckingham Usai Renovasi

Ringkasan

  • Raja Charles III memutuskan untuk tetap tinggal di Clarence House meski renovasi Istana Buckingham telah selesai, sembari merilis laporan pajak pribadi sebagai wujud transparansi.

Raja Charles III secara resmi mengumumkan bahwa dirinya tidak akan menjadikan Istana Buckingham sebagai tempat tinggal utama, bahkan setelah proyek renovasi besar-besaran selama 10 tahun senilai 369 juta poundsterling (sekitar US$487 juta) rampung. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya modernisasi monarki Inggris yang ingin meningkatkan akses publik ke bangunan bersejarah tersebut, yang telah menjadi pusat kehidupan kerajaan selama hampir dua abad.

Meski tidak menjadikannya kediaman pribadi, pihak istana menegaskan bahwa Raja Charles dan Ratu Camilla akan tetap menggunakan Istana Buckingham sebagai pusat operasional dan seremonial monarki. Selama sisa masa pemerintahannya, pasangan kerajaan ini akan tetap tinggal di Clarence House yang letaknya tidak jauh dari lokasi tersebut. James Chalmers, pejabat tinggi kerajaan yang mengelola keuangan raja, menyebut bahwa istana tetap merupakan pusat monarki dan simbol kebanggaan nasional.

Pengumuman ini disampaikan pada Kamis (25/6) dalam sebuah sesi pengarahan mengenai keuangan kerajaan. Dalam momen tersebut, Raja Charles mencatatkan sejarah sebagai raja Inggris pertama yang secara terbuka mengungkapkan rincian pajak yang dibayarkannya kepada pemerintah. Tercatat, Raja membayar pajak penghasilan dan pajak keuntungan modal sebesar 12,9 juta poundsterling (sekitar US$16,1 juta) untuk tahun anggaran 2024-2025, meningkat dari 11,7 juta poundsterling pada tahun sebelumnya.

Langkah transparansi ini dinilai sebagai upaya sadar pihak kerajaan untuk menunjukkan keterbukaan di tengah tuntutan publik. Meskipun raja tidak diwajibkan untuk mengungkapkan urusan pajak pribadinya, Raja Charles memilih untuk melepaskan hak privasi tersebut. Data pajak ini mencakup pendapatan pribadi yang bersumber dari perkebunan milik pribadinya, yakni Balmoral di Skotlandia dan Sandringham di pesisir timur Inggris, serta penjualan aset.

Selain Raja, Pangeran William selaku Pangeran Wales juga turut merilis rincian pajak pribadinya. Pangeran William tercatat membayar 7,76 juta poundsterling untuk tahun pajak 2024-2025, angka yang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Publikasi angka-angka ini memberikan gambaran konkret mengenai kekayaan pribadi anggota keluarga kerajaan, yang selama ini sering kali disalahpahami sebagai kepemilikan atas kastil, perhiasan, dan karya seni yang sebenarnya merupakan aset milik negara.

Para pakar konstitusi, seperti Craig Prescott dari Royal Holloway, University of London, menilai langkah ini sangat krusial dalam menjaga legitimasi institusi monarki di era modern. Dengan bersikap transparan, pihak kerajaan berupaya membedakan diri dari skandal masa lalu dan memperkuat narasi bahwa monarki adalah institusi publik yang bekerja untuk kepentingan rakyat. Keputusan ini mencerminkan transisi monarki Inggris menuju era yang lebih akuntabel dan terbuka di bawah kepemimpinan Raja Charles III.

Mengapa Ini Penting

Langkah transparansi keuangan yang diambil Raja Charles III menjadi pelajaran penting bagi institusi publik dan korporasi mengenai pentingnya membangun kepercayaan melalui keterbukaan data. Praktik ini menunjukkan bagaimana organisasi besar dapat mempertahankan relevansi dan legitimasi di mata publik dengan mengadopsi standar akuntabilitas yang lebih tinggi.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit