Raja Charles III secara resmi mengumumkan bahwa ia tidak akan menempati Buckingham Palace setelah proses renovasi besar-besaran selama satu dekade selesai pada tahun depan. Keputusan ini menandai perubahan bersejarah bagi monarki Inggris, mengingat Buckingham Palace telah berfungsi sebagai kediaman utama penguasa Inggris di London sejak masa pemerintahan Ratu Victoria pada tahun 1837.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Kamis waktu setempat, otoritas kerajaan mengonfirmasi bahwa Raja Charles memilih untuk tetap tinggal di Clarence House. Kediaman yang terletak tidak jauh dari Buckingham Palace tersebut telah menjadi rumah bagi Raja selama bertahun-tahun. Keputusan ini secara efektif mengakhiri tradisi selama hampir dua abad di mana penguasa Inggris menetap di lokasi megah tersebut.
Seiring dengan pengumuman tersebut, pihak kerajaan untuk pertama kalinya mengungkapkan data keuangan Raja terkait kewajiban pajak. Raja Charles tercatat membayar pajak sebesar 12,9 juta poundsterling atau setara dengan 17,04 juta dolar AS (sekitar Rp263 miliar) untuk periode 2024/2025. Angka ini secara otomatis menempatkan Raja Charles dalam daftar 100 pembayar pajak terbesar di Inggris.
Langkah transparansi ini diambil sebagai respons atas meningkatnya kritik publik terhadap keuangan keluarga kerajaan pasca-wafatnya Ratu Elizabeth II pada tahun 2022. Keluarga kerajaan kini berupaya menunjukkan keterbukaan yang lebih besar mengenai sumber daya keuangan mereka kepada masyarakat luas, sebuah pergeseran signifikan dari protokol kerahasiaan tradisional yang selama ini dipertahankan.
Proyek renovasi Buckingham Palace sendiri menelan biaya fantastis sebesar 369 juta poundsterling. Pekerjaan yang dimulai sejak 2017 ini mencakup pembaruan infrastruktur vital, termasuk penggantian kabel listrik yang sudah tua, perbaikan sistem pipa, hingga pembaruan sistem pemanas gedung agar sesuai dengan standar modern dan efisiensi energi terkini.
James Chalmers, bendahara kerajaan sekaligus penjaga kas pribadi (keeper of the privy purse), menegaskan bahwa meskipun tidak dijadikan tempat tinggal utama, Buckingham Palace akan tetap menjalankan fungsinya. Istana tersebut akan terus menjadi pusat kegiatan seremonial, urusan kenegaraan, serta lokasi utama untuk menyambut tamu kehormatan dan diplomat asing dari seluruh dunia.