Seorang pengusaha asal Singapura, Raymond Ng Kai Hoe, mulai menjalani persidangan di pengadilan setempat pada Senin (6/7) terkait dugaan kasus penipuan. Pria berusia 53 tahun ini menghadapi enam dakwaan penipuan yang melibatkan kerugian finansial lebih dari S$25.000 atau sekitar Rp290 juta. Kasus ini bermula dari operasional perusahaan miliknya, Candle Consulting, dalam kurun waktu Agustus 2019 hingga Oktober 2020.
Dalam dakwaannya, jaksa menyebutkan bahwa Ng diduga telah menipu empat pria dan dua wanita dengan modus investasi mesin kopi. Para korban diyakinkan untuk membeli hak kepemilikan bersama atas mesin-mesin kopi tersebut, yang kemudian mendorong mereka melakukan pembayaran berkisar antara S$2.500 hingga S$7.700 kepada perusahaan milik Ng. Pihak kejaksaan memutuskan untuk memprioritaskan enam dakwaan ini terlebih dahulu, sementara enam dakwaan lainnya ditunda sementara waktu.
Raymond Ng, yang merupakan suami dari Iris Koh—pendiri kelompok antivaksin 'Healing the Divide'—memilih untuk membela dirinya sendiri di pengadilan. Sebelum persidangan dimulai, Hakim Distrik Lim Tse Haw sempat menegur Ng karena keterlambatannya. Ng beralasan bahwa keterlambatan tersebut disebabkan oleh kondisi kesehatan istrinya yang sedang menjalani proses hukum terpisah terkait kasus vaksin COVID-19.
Selama persidangan berlangsung, Ng sempat mengajukan beberapa permintaan teknis kepada majelis hakim, termasuk akses ke sumber daya listrik karena ia bertindak sebagai kuasa hukum bagi dirinya sendiri. Namun, permohonan tersebut tidak dikabulkan oleh hakim. Ng juga meminta waktu untuk menyelesaikan proses hukum perdata lain yang berjalan paralel dengan kasus pidana ini, yang ditanggapi hakim agar diajukan sesuai jadwal yang relevan.
Pada sesi awal persidangan, pihak jaksa menghadirkan saksi pertama, How Kai Xin, seorang spesialis proses hukum dari perusahaan pembayaran Stripe. Perusahaan milik Ng, Candle Consulting, diketahui menggunakan platform Stripe untuk memproses transaksi dari para pelanggannya. Dalam sesi pemeriksaan silang, Ng melontarkan banyak pertanyaan teknis mengenai operasional sistem Stripe yang sempat memicu intervensi dari jaksa karena pertanyaan tersebut dianggap berada di luar kapasitas saksi.
Persidangan sempat diwarnai ketegangan ketika Hakim Lim harus berulang kali menengahi jalannya pemeriksaan karena Ng beberapa kali menyela saksi dan hakim. Hakim Lim kemudian membantu menyederhanakan pertanyaan agar saksi dapat memberikan keterangan yang relevan terkait perbedaan antara otorisasi pembayaran pengguna dengan proses akhir dari pihak bank. Persidangan ini dijadwalkan akan terus berlanjut dengan menghadirkan para korban sebagai saksi tambahan di persidangan berikutnya.