Komisi Lisensi dan Pengawasan (ZAK) Jerman yang mewakili 14 otoritas media negara bagian memutuskan bahwa fitur AI Overviews dari Google serta chatbot Perplexity kini masuk dalam cakupan undang-undang media setempat. Keputusan yang diumumkan pada Selasa (14 Juli) di Berlin itu mempertegas bahwa output kecerdasan buatan (AI) tidak lagi bisa dianggap sebagai tampilan materi pihak ketiga belaka.
Langkah ini diambil menyusul putusan pengadilan di Munich yang menyatakan Google bertanggung jawab langsung atas informasi keliru yang dihasilkan oleh fitur AI Overview. Asosiasi penerbit surat kabar Jerman (BDZV) mencatat bahwa ringkasan buatan AI dinilai sebagai konten yang diciptakan sendiri oleh perusahaan, bukan sekadar perantara.
Ketua ZAK, Thorsten Schmiege, menegaskan bahwa mesin pencari berbasis AI dan chatbot dikategorikan sebagai penyedia konten. Pernyataan itu sekaligus menutup celah pengecualian tanggung jawab yang biasanya dipakai platform sesuai Undang-Undang Layanan Digital Uni Eropa (DSA). DSA memang melindungi platform dari konten ilegal buatan pengguna, namun regulator Jerman berpendapat aturan tersebut tidak berlaku untuk ringkasan berita yang digenerate AI.
Penelusuran lebih jauh menunjukkan alasan di balik keputusan tersebut. AI Overviews ditampilkan menonjol di halaman hasil pencarian, sehingga daftar tautan konvensional menjadi kurang terlihat. Kondisi ini dianggap merugikan media independen yang seharusnya mendapat trafik langsung dari pembaca.
Perplexity dan layanan serupa juga dinilai memengaruhi penemuan konten berita ketika memilih serta menyajikan sumber di samping jawaban AI. ZAK berargumen bahwa praktik tersebut membuat mereka layak disebut sebagai perantara media yang wajib mematuhi aturan perlindungan keragaman media.
Di Indonesia, pengguna Google Search sudah terbiasa dengan algoritma penyajian informasi, meski AI Overviews belum diluncurkan resmi secara menyeluruh. Namun, banyak pengguna teknologi lokal mengakses fitur tersebut melalui cara tidak resmi atau akun region tertentu. Kehadiran regulasi di Jerman memberi sinyal bahwa negara lain, termasuk Indonesia, perlu menyiapkan landasan hukum sejenis agar perusahaan raksasa teknologi tidak mendominasi distribusi berita.
Industri media tanah air tengah bergelut dengan penurunan pendapatan iklan akibat agregator. Jika AI mulai merangkum berita tanpa mengarahkan pembaca ke situs asal, ancaman terhadap sustainability jurnalisme lokal makin nyata. Produk lokal seperti chatbot buatan startup dalam negeri juga harus mempertimbangkan kepatuhan terhadap aturan mediasi konten di masa depan.
Perbandingan dengan situasi di Eropa menunjukkan bahwa intervensi regulator biasanya mengikuti keluhan penerbit kecil dan menengah. Indonesia memiliki Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) yang kerap mengadvokasi hak cipta berita. Regulasi semacam ini berpotensi menjadi referensi saat Kominfo menyusun kebijakan AI nasional.
"Mesin pencari AI dan chatbot adalah penyedia konten, dan kami akan secara konsisten menerapkan hukum media Jerman pada mereka mulai sekarang," ujar Schmiege dalam keterangan resmi. Google menyatakan keberatan dan berencana mengajukan banding karena menilai putusan gagal memahami perubahan ekosistem informasi.
"Ringkasan berbasis AI kami meningkatkan pengalaman pencarian di Jerman karena mereka membantu pengguna menemukan konten baru dan mengajukan pertanyaan lanjutan," kata juru bicara Google. Sementara itu, Perplexity menolak berkomentar terkait keputusan ZAK, namun menegaskan pihaknya mematuhi aturan privasi Uni Eropa (GDPR) serta memiliki sertifikasi SOC 2 Type II.
Perseteruan hukum ini akan berlanjut ke tingkat pengadilan lebih tinggi menyusul niat Google mengajukan banding. Jika upaya itu gagal, Google diwajibkan memodifikasi tampilan AI Overviews di Jerman dengan menyertakan atribusi sumber yang lebih eksplisit dan mengalihkan sebagian trafik ke publisher.
Tren pengawasan AI generatif di sektor media meluas ke negara lain. Regulator di Prancis, Inggris, bahkan kawasan ASEAN akan menjadikan putusan Jerman sebagai referensi dalam merumuskan pedoman serupa. Transisi dari indeks tautan ke ringkasan otomatis memaksa seluruh ekosistem jurnalisme beradaptasi atau tertelan algoritma.