Alphabet menunda peluncuran Gemini 3.5 Pro, model kecerdasan buatan unggulan yang semula dijadwalkan meluncur pada Juni 2025. Keterlambatan ini terjadi karena kemampuan teknis model tersebut belum memenuhi target internal, terutama dalam hal pemrograman kode, menurut laporan Bloomberg yang dipublikasikan Kamis (16/7). Sundar Pichai, CEO Alphabet, sebelumnya mengumumkan jadwal rilis Juni dalam konferensi pengembang tahunan I/O pada Mei lalu.
Penundaan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan insinyur, peneliti AI, dan manajer Google. Mereka menyadari pesaing seperti OpenAI dan Anthropic telah merilis sistem yang secara performa lebih unggul dari Gemini. Bloomberg mengutip 10 orang pegawai aktif maupun mantan karyawan perusahaan untuk memperkuat temuan tersebut.
Persaingan di industri model bahasa besar memang semakin ketat. Pengembang berlomba memperbaiki performa, menekan biaya operasional, sekaligus memperluas fitur perusahaan. Alhasil, hampir setiap pekan muncul sistem atau model penalaran baru yang menggeser posisi pemain lain.
Google sendiri berupaya mengejar ketertinggalan dengan memperbarui data latih Gemini pada akhir Juni. Langkah itu dimaksudkan untuk meningkatkan kapabilitas, khususnya di bidang coding. Akan tetapi, hasil yang diperoleh masih di bawah ekspektasi tim internal, sehingga peluncuran terpaksa ditunda beberapa bulan.
Dampak penundaan langsung terlihat di pasar modal. Saham Alphabet merosot hampir 3 persen setelah laporan Bloomberg menyebar. Investor menangkap sinyal bahwa dominasi Google di segmen AI mulai goyah di tengah akselerasi kompetitor.
Bagi ekosistem teknologi Indonesia, keterlambatan ini punya implikasi nyata. Banyak perusahaan lokal dan talenta digital Tanah Air mengandalkan API Gemini untuk produk chatbot, analisis data, hingga alat bantu coding otomatis. Penundaan model generasi terbaru berarti mitra di Indonesia harus bertahan dengan kapabilitas versi saat ini, sementara pesaing global sudah menawarkan fitur lebih matang.
Startup lokal seperti Nodeflux atau perusahaan pengembang perangkat lunak yang menggunakan layanan cloud Google pun terdampak secara tidak langsung. Mereka kerap menyesuaikan roadmap produk dengan jadwal rilis vendor global. Kini, rencana integrasi fitur AI canggih di aplikasi Indonesia mungkin ikut mundur.
Sementara itu, rival Google justru menghadapi dinamika sendiri di Amerika Serikat. OpenAI meluncurkan GPT-5.6 pekan lalu setelah sempat tertunda karena permintaan pemerintah AS terkait keamanan nasional. Anthropic menonaktifkan Mythos 5 dan Fable 5 untuk seluruh pengguna pasca perintah kontrol ekspor 12 Juni, sebelum akhirnya mencabut pembatasan setelah penyediaan safeguard.
Juru bicara Google menyatakan pihaknya tengah menguji 3.5 Pro, versi Flash yang ditingkatkan, dan model lain bersama mitra. "Kami saat ini menguji 3.5 Pro, model Flash yang ditingkatkan, dan model lainnya dengan mitra, serta terlibat produktif dengan pemerintah AS," ujar perwakilan perusahaan dalam pernyataan resmi. "Kami merilis pembaruan dengan cepat di berbagai model sambil menjaga biaya tetap efektif bagi pelanggan."
Di Indonesia, ketergantungan pada model AS memunculkan urgensi untuk memperkuat alternatif domestik. Kementerian Komunikasi dan Informatika sebelumnya mendorong pengembangan model bahasa besar lokal seperti Sailor dan Komodo oleh institut riset dalam negeri. Namun, skala dan pendanaan masih jauh di bawah raksasa Silicon Valley.
Ke depan, Google diproyeksikan akan mempercepat siklus rilis model dengan pendekatan bertahap. Alih-alih menunggu Gemini 3.5 Pro sempurna, perusahaan mungkin merilis versi pratinjau lebih awal kepada pengembang terpilih. Di sisi lain, persaingan AI global akan semakin dipengaruhi regulasi keamanan nasional, bukan sekadar keunggulan teknis.
Pengguna di Indonesia perlu memantau perkembangan ini karena harga dan ketersediaan layanan AI bergantung pada strategi vendor global. Jika Google menekan harga untuk mengejar pangsa pasar, pelaku UMKM digital Tanah Air bisa mendapatkan akses AI lebih murah dalam beberapa bulan ke depan.