Bursa saham Asia-Pacific membuka pekan dengan sentimen positif setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang melebihi ekspektasi menenangkan kekhawatiran resesi global. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 2,0 persen, pulih dari kerugian sebesar itu pekan lalu, sementara Kospi Korea Selatan mencatat kenaikan 3,0 persen. Indeks luas MSCI Asia Pasifik kecuali Jepang naik 0,9 persen, menandakan optimisme pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
Kenaikan saham terjadi di tengah tekanan inflasi yang semakin nyata. Harga minyak Brent naik 0,2 persen ke US$96,45 per barel, setelah melonjak hampir 10 persen sepanjang pekan lalu. Minyak mentah AS (WTI) naik 0,4 persen ke US$91,85 per barel. Lonjakan ini dipicu eskalasi militer di Teluk Hormuz, di mana pasukan AS menyerang tiga tanker Iran, dan Korps Revolusioner Islam Iran membalas dengan menembakkan rudal balistik ke dua kapal perang AS.
Tehran kemudian mengumumkan akan menetapkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Selat ini adalah jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak global sehari-hari. Setiap gangguan aliran di titik kemacetan ini berpotensi mendorong harga energi lebih tinggi lagi, memperburuk tekanan inflasi yang sudah mengancam pemulihan ekonomi global.
Di Eropa, pasar saham bergerak hati-hati. Futures Euro Stoxx 50 dan DAX turun 0,1 persen, sementara FTSE datar. Investor menunggu keputusan European Central Bank (ECB) pada Kamis, di mana pasar memperkirakan kenaikan suku bunga 25 basis poin ke 2,75 persen. Futures bahkan menilai peluang 75 persen ECB menaikkan suku bunga lagi ke 3,0 persen sebelum akhir tahun. Kebijakan agresif ini membuat ekuitas Eropa tetap tegang.
Di Wall Street, perdagangan sepi karena hari libur Labor Day. Futures S&P 500 dan Nasdaq sedikit merah. Fokus utama pekan ini adalah data Inflasi Konsumen (CPI) AS Agustus yang dirilis Jumat. Konsensus median memproyeksikan kenaikan inti CPI 0,2 persen, dengan risiko ke atas 0,3 persen. Angka yang lebih panas dari dugaan bisa mendorong imbal hasil obligas 10 tahun AS — yang sudah menyentuh 4,784 persen, tertinggi sejak akhir 2023 — mendekati batas psikologis 5,0 persen.
Kenaikan imbal hasil obligas tetap menjadi beban bagi valuasi ekuitas. Biaya pinjam yang lebih mahal menurunkan daya tarik saham dibandingkan instrumen renta tetap. Untuk Federal Reserve, laporan tenaga kerja kuat pekan lalu membuat pasar menilai peluang kenaikan suku bunga 58 persen pada pertemuan 16 September, dan 70 persen pada Oktober. Namun, Bruce Kasman, Kepala Ekonom Global JPMorgan, memperkirakan inti CPI naik 0,21 persen — cukup rendah untuk membuat Fed menahan suku bunga, setidaknya untuk saat ini.
Bank Sentral Jepang (BOJ) juga menjadi sorotan. Pasar menilai peluang 75 persen BOJ menaikkan suku bunga seperempat poin pada pertemuan 18 September, dengan probabilitas 60 persen kenaikan lanjutan sebelum Desember. Yen telah menguat 2,4 persen pekan lalu ke level 156,07 per dolar, menguji support utama 155,00, di tengah spekulasi penegakan kebijakan moneter yang lebih agresif.
"Kesabaran bank sentral melalui guncangan energi telah mendukung harga aset dan siklus kredit," kata Kasman. "Namun, bank sentral kini bergerak." Ia memproyeksikan dua kali kenaikan lagi dari ECB dan BOJ sebelum akhir tahun, serta menilai ada alasan kuat bagi Fed untuk bergerak lebih awal dan agresif dari proyeksi baseline kenaikan Desember.
Di pasar valuta, indeks dolar hanya naik tipis ke 99,135 setelah laporan tenaga kerja, masih dekat level terendah baru-baru ini 98,558. Kekhawatiran tentang utang AS yang membengkak dan ketidakpastian kebijakan mengikis daya beli dolar, mendorong investor ke aset langka seperti emas. Emas stabil di US$4.426 per ons, setelah menemukan support di US$4.282 pekan lalu.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak global ini menimbulkan tekanan ganda. Pertama, risiko subsidi energi membengkak jika harga crude tetap di atas US$90 per barel dalam jangka panjang, menguras anggaran negara. Kedua, tekanan inflasi impor bisa memaksa Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan tinggi lebih lama, memperlambat ekspansi kredit dan investasi domestik. Rupee yang melemah terhadap dolar juga memperbesar beban utang denominasi valas.
Sementara itu, kenaikan suku bunga global yang sinkron — dari Fed, ECB, hingga BOJ — menciptakan lingkungan likuiditas ketat. Aliran modal ke pasar emergin seperti Indonesia berpotensi melambat, meski differensial suku bunga dengan AS masih menawarkan carry trade yang menarik. Pemerintah dan BI perlu waspada terhadap volatilitas arus modal serta tekanan neraca pembayaran jika harga komoditas energi tetap tinggi.
Ke depan, data CPI AS Jumat akan menjadi katalis utama. Angka panas bisa memvalidasi naratif "higher for longer" suku bunga, mendorong dolar dan imbal hasil obligas lebih tinggi, serta menekan ekuitas global. Sebaliknya, angka tenang bisa memberi ruang bagi bank sentral untuk berhenti sejenak. Escalasi geopolitik di Teluk Hormuz tetap menjadi variabel acak yang bisa mengubah skenario kapan saja.