Berita

Satgas SDA Ciracas Keruk Saluran Susukan Cegah Genangan Saat Hujan

Ringkasan

  • Satgas SDA Ciracas kerahkan 21 personel keruk saluran 25 meter di Susukan Jumat demi cegah genangan hujan.

Satuan tugas Sumber Daya Alam Kecamatan Ciracas mengerahkan 21 personel untuk menguras saluran penghubung di Jalan Haji Jusin, RW 05, Kelurahan Susukan, Jakarta Timur, Jumat. Kegiatan dilakukan guna menekan risiko genangan menjelang puncak musim hujan.

Pembersihan saluran sepanjang 25 meter itu difokuskan pada sedimen lumpur dan tumpukan sampah yang mengecilkan kapasitas tampung air. Akses lokasi yang sempit membuat alat berat tidak dapat masuk, sehingga seluruh proses digarap secara manual oleh enam Pasukan Biru bersama 15 petugas PPSU Kelurahan Susukan.

Menurut Koordinator Satgas SDA Ciracas, Deby, pengerjaan sudah berjalan sejak sehari sebelum pelaksanaan dan ditargetkan tuntas pada akhir pekan. Progresnya baru menyentuh 50 persen karena kendala ruang kerja dan ketergantungan pada tenaga manusia.

Kondisi saluran di Susukan mencerminkan persoalan drainase perkotaan yang kerap terabaikan di wilayah padat penduduk. Penumpukan lumpur dan sampah rumah tangga membuat saluran alami kehilangan fungsi utamanya saat intensitas hujan meningkat.

Arahan pengerukan serentak di seluruh kecamatan Jakarta Timur datang langsung dari Wali Kota Munjirin sebagai langkah antisipatif tahunan. Pada 15 Januari 2026, ia menekankan bahwa sedimen saluran harus dibersihkan bersama warga agar sistem drainase bekerja optimal saat puncak curah hujan.

Lurah Susukan, Puja Akbar Sahroni, menambahkan bahwa pihaknya memasang tanggul sementara dari karung pasir sepanjang 30 meter di masing-masing sisi saluran. Total 60 meter tanggul dibuat karena sebagian saluran masih berbentuk alur alami tanpa turap penahan.

Upaya lapangan seperti ini menjadi krusial karena banjir lokal di Jakarta tidak selalu berasal dari luapan sungai besar. Saluran mikro yang mampet kerap memicu genangan di permukiman dalam waktu singkat, meski hujan baru berlangsung satu jam.

Bagi warga Susukan, pengerukan memberi napas lega karena akses jalan utama kerap tergenang saat hujan deras. Keberadaan tanggul pasir juga mengurangi kecemasan luapan air ke pemukiman padat di RW 05.

Munjirin menyatakan hasil serupa sudah dirasakan warga Jalan Jeruk dan Jalan Aren yang tidak mengalami genangan meski diguyur hujan lebat. Ia menegaskan pengerukan akan berlanjut ke saluran penghubung lain seusai titik saat ini rampung.

“Jangan buang sampah sembarangan, apalagi di saluran air yang bisa memicu sumbatan hingga pendangkalan,” ucap Akbar mengingatkan warga. Partisipasi menjaga kebersihan dinilai sama penting dengan intervensi fisik dari petugas.

Di sisi lain, kolaborasi Pasukan Biru dan PPSU menunjukkan model penanganan yang mengandalkan ketersediaan personel而非 mesin berat. Keterbatasan alat justru memaksa pengawasan lingkungan lebih rapat dengan warga setempat.

Ke depan, Pemkot Jakarta Timur akan bergeser ke saluran penghubung lain usai pekerjaan di Susukan selesai. Munjirin berharap metode berkesinambungan ini memberi dampak maksimal dan menekan keluhan banjir warga setiap musim hujan.

Tren pengerukan manual diprediksi tetap dominan di lorong permukiman sempit yang tidak terjangkau ekskavator. Tanpa turap permanen, langkah preventif semacam ini akan terus diperlukan tiap siklus cuaca ekstrem.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyiratkan bahwa infrastruktur turap permanen di permukiman padat masih minim, sehingga pemkot terjebak pada penanganan reaktif tiap musim hujan. Ketergantungan pada kerja manual juga memperlihatkan ketimpangan pemeliharaan drainase antara kawasan elit dan pinggiran ibu kota. Tanpa perubahan perilaku buang sampah warga, anggaran pengerukan tahunan berisiko menjadi pemborosan karena sedimen cepat kembali menumpuk. Masyarakat luas perlu membaca ini sebagai urgensi partisipasi lingkungan, bukan sekadar tugas petugas biru.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit