Pada Senin (14/7), sembilan pemimpin negara Eropa bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berkumpul di Paris untuk mengumumkan program bersama pembangunan perisai anti-rudal balistik terintegrasi. Koalisi yang dinamakan Integrated Anti-Ballistic Missile Coalition ini lahir di sela pertemuan "Coalition of the Willing", kelompok 35 negara yang sejak Maret 2025 mengoordinasikan bantuan militer ke Ukraina. Sekitar 25 kepala negara dan pemerintahan hadir dalam pertemuan tersebut, yang juga membahas pengiriman senjata tambahan dan sanksi terhadap Rusia.
Sepuluh negara penanda tangan pendiri terdiri dari Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Britania Raya, dan Ukraina. Komposisi ini memadukan industri pertahanan terbesar Eropa dengan satu-satunya negara di benua tersebut yang memiliki pengalaman tempur nyata menghadapi serangan rudal balistik. Yang mencolok, Polandia, negara-negara Baltik, dan Finlandia yang berbatasan langsung dengan Rusia tidak ikut menandatangani. Amerika Serikat pun absen sebagai penandatangan meski selama ini menjadi pemasok utama sistem pertahanan benua tersebut.
Langkah ini dipicu oleh kampanye rudal balistik Rusia terhadap kota-kota Ukraina yang mempertontonkan betapa tipisnya pertahanan Eropa. Interceptor buatan AS seperti Patriot harganya mencapai jutaan dolar per unit, sementara produksinya tidak mampu mengejar laju permintaan global. Deklarasi resmi menyebut perlindungan Eropa membutuhkan solusi arsitektur pertahanan rudal terintegrasi yang dibangun lewat upaya kolektif dan kerja sama industri terpercaya.
Sebelumnya, benua itu sudah memiliki beberapa sistem seadanya. Sejumlah negara mengoperasikan Patriot, namun biaya tinggi dan ketersediaan terbatas membuatnya tidak berkelanjutan. Sistem SAMP/T buatan Prancis-Italia menjadi alternatif lokal, tetapi penggunaan tempurnya terbatas dan stoknya juga menipis di Ukraina. Sejak 2022, ada pula Inisiatif European Sky Shield yang dipimpin Jerman untuk pengadaan bersama, tapi karena mengandalkan Patriot dan Arrow 3 Israel, Prancis memilih tidak bergabung.
Koalisi baru ini secara eksplisit ditegaskan bukan pengganti sistem yang ada. Olesia Horiainova, wakil kepala lembaga think-tank Ukrainian Security and Cooperation Centre, menilai program tersebut sebagai pembentukan arsitektur pertahanan udara Eropa baru di luar naungan NATO dan Uni Eropa. Ukraina memegang peran sentral karena pengalaman uniknya mementahkan barrage rudal Iskander dan Kinzhal dengan kekuatan lawan yang lebih unggul.
Bagi Indonesia, manuver Eropa ini menyajikan pelajaran berharga tentang pentingnya kedaulatan industri pertahanan. Tanah air saat ini mengandalkan sistem pertahanan udara lapis seperti NASAMS dan Mistral, namun belum memiliki kemampuan intersepsi rudal balistik strategis. Ketergantungan pada senjata impor mahal membuat anggaran pertahanan rentan terhadap gejolak rantai pasok global, persis seperti yang dialami Eropa terhadap interceptor AS.
Model interceptor murah hasil kembangan lokal Ukraina bernama Freyja patut menjadi inspirasi bagi startup dan BUMN pertahanan Indonesia. Pengembang Fire Point mengklaim biaya produksi rudal ini hanya sebagian kecil dari harga Patriot, meski belum teruji tempur secara penuh. Pendekatan serupa bisa diaplikasikan untuk melindungi infrastruktur kritis di wilayah kepulauan dari ancaman drone dan rudal jarak pendek dengan biaya terjangkau.
Di sisi lain, absennya AS dalam penandatanganan menunjukkan gelagat otonomisasi strategis Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan di platform X bahwa program tersebut memperkuat kapabilitas yang dibutuhkan benua itu. Zelenskyy lebih blak-blakan mengakui Kiev kerap kekurangan rudal intersepsi, sehingga bergabung demi menutup kelemahan tersebut.
Horiainova menambahkan bahwa kerja sama ini tidak menggantikan European Sky Shield yang beroperasi lewat integrasi sistem kompatibel NATO. Ia menekankan peran Ukraina sangat signifikan karena negara itu terus menghadapi barrage senjata tinggi secara masif. Pengalaman tempur tersebut tidak dimiliki bahkan oleh adidaya seperti AS.
Proyeksi ke depan, deklarasi mewajibkan sepuluh negara menyepakati persyaratan operasional dan peta jalan menuju kapabilitas awal, namun tanpa batas waktu pasti. Zelenskyy justru optimistis sistem anti-balistik murah siap diproduksi massal dalam 12 bulan ke depan berbasis program Freyja. Langkah berikutnya mencakup pembentukan kelompok kerja teknis bersama dan integrasi industri.
Tren pembuatan perisai rudal mandiri diprediksi akan mempercepat lomba teknologi pertahanan di luar payung Amerika. Negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dapat mempertimbangkan kerangka kolaborasi serupa untuk meningkatkan resilensi regional. Transisi dari senjata mahal ke interceptor berbiaya rendah berpotensi mengubah wajah pertahanan udara modern secara global.