Sekolah Victoria di Singapura menggelar pesta nonton bareng semalam untuk sekitar 350 siswa tingkat satu hingga empat. Acara sukarela ini bertujuan memperkuat semangat kebersamaan sebelum final Piala Dunia antara Spanyol dan Argentina yang dimulai pukul 03.00 dini hari. Siswa menginap di aula, tidur beberapa jam, lalu menyaksikan pertandingan sebelum kembali ke kelas pada pukul 07.30. Sebanyak lima hingga delapan guru mendampingi kegiatan tersebut.
Singapore Sports School juga menyiapkan acara serupa atas usul osis. Siswa mengadakan permainan selama jeda waktu, sementara orang tua menyediakan camilan. Kelas dimulai pada pukul 10.00, dan siswa nonresiden boleh menginap di auditorium sebelum sarapan bersama. Kepala sekolah Ong Kim Soon berharap pengalaman mengorganisasi ini meningkatkan kepercayaan diri para pemimpin muda.
Sekolah Anglo-Chinese (Independent) mulai pelajaran pada pukul 08.30, lebih siang dari biasanya, dan memindahkan acara kebaktian Senin ke hari Rabu. Kepala sekolah Kevin Pang menyatakan, "Kami ingin mendukung keluarga menciptakan kenangan bersama yang berarti sambil tetap menjaga identitas sekolah." Pesan tersebut juga mengingatkan siswa untuk beristirahat cukup.
Hwa Chong Institution bahkan lebih memperpanjang waktu masuk kelas hingga pukul 09.30, sementara waktu pulang tetap sama. Dalam pemberitahuan kepada orang tua, sekolah menyatakan penyesuaian ini bertujuan memberi waktu istirahat lebih banyak serta mengakui Piala Dunia sebagai peristiwa yang menyatukan orang di seluruh dunia.
Methodist Girls' School dan St Joseph’s Institution (SJI) juga menunda jam masuk. SJI menekankan agar siswa, baik yang menonton final maupun tidak, tetap menjaga pola tidur sehat dan siap untuk minggu pelajaran. Sekolah-sekolah ini menunjukkan keseimbangan antara euforia olahraga dan disiplin akademik.
ACS (International) merayakan euforia dengan hari jersey nasional. Siswa diizinkan mengenakan jersey timnas mana pun, bahkan dari negara yang tidak lolos ke turnamen ini, tetapi jersey klub dilarang. Kepala sekolah Gavin Kinch berharap kegiatan ini memberi kesempatan menyenangkan bagi siswa merayakan turnamen terbesar sepak bola.
Penyesuaian ini dilakukan karena final Piala Dunia 2026 dimulai pukul 03.00, waktu yang sangat dini bagi siswa. Sekolah menyadari banyak remaja akan begadang untuk menyaksikan pertandingan, sehingga mereka merancang jadwal yang memungkinkan istirahat namun tetap merayakan peristiwa tersebut bersama komunitas sekolah.
Langkah-langkah ini mencerminkan filosofi pendidikan Singapura yang mengutamakan keseimbangan antara prestasi akademik dan pengembangan karakter. Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang sosial yang membentuk kebersamaan. Di Indonesia, di mana sekolah jarang mengubah jadwal untuk acara olahraga, pendekatan ini bisa menjadi inspirasi untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan membangun kepemimpinan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang bermakna.
Kutipan dari siswa dan kepala sekolah memperjelas dampak nyata acara tersebut. Lucas Augustin, siswa kelas 3 di Victoria School, menyatakan, "Ini ide bagus untuk bonding, tapi akan lebih baik jika sekolah libur besok karena sulit berkonsentrasi setelah begadang." Kepala sekolah Low Chun Meng menambahkan, acara ini bertujuan membangun semangat sekolah yang kuat. Sementara itu, Ong Kim Soon berharap pengalaman mengorganisasi memperkuat rasa percaya diri siswa, dan Kevin Pang mengingatkan pentingnya istirahat.
Mengintegrasikan acara olahraga besar ke dalam kalender sekolah dapat menjadi tren yang terus berkembang. Kemungkinan besar, sekolah akan memanfaatkan teknologi streaming untuk acara nonton bareng secara hybrid, melibatkan siswa yang tinggal di asrama maupun yang pulang ke rumah. Praktik ini juga dapat mendorong lebih banyak kegiatan kepemimpinan siswa dan menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap prestasi atletik.
Di Indonesia, Liga 1 dan turnamen sepak bola sekolah sudah menjadi bagian dari kalender olahraga. Beberapa sekolah tinggi mengadopsi hari jersey, tetapi jarang mengubah jadwal pelajaran untuk pertandingan besar. Penerapan model Singapura ini dapat meningkatkan semangat siswa, mengurangi kelelahan karena begadang, dan menciptakan tradisi baru yang menggabungkan olahraga dengan pendidikan.
Penyesuaian jadwal dan acara nonton bareng yang dilakukan sekolah-sekolah Singapura menunjukkan bagaimana institusi pendidikan dapat beradaptasi dengan kehidupan remaja modern tanpa mengorbankan disiplin belajar. Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pendekatan inklusif ini, merancang kebijakan yang menghormati euforia siswa sekaligus memastikan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, sekolah bukan hanya tempat transfer pengetahuan, tetapi juga pembentuk komunitas yang hidup dan dinamis.