Internasional

Selandia Baru Tarik Dukungan ke Infantino, OFC Tetap Bertahan di Sisi FIFA

Ringkasan

  • Selandia Baru menarik dukungan untuk rejeksi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA, berlawanan dengan konfederasi OFC yang tetap mendukung kepemimpinan saat ini.

Selandia Baru resmi menarik dukungannya untuk rejeksi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA pada Jumat lalu, menjadikan negara ini satu-satunya anggota Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) yang membelah barisan. Keputusan ini diumumkan New Zealand Football (NZF) melalui pernyataan resmi yang dikutip Reuters, menegaskan perlunya tinjauan independen atas proposal penjualan hak komersial Piala Dunia yang digugurkan Infantino minggu lalu.

Langkah Selandia Baru memperdalam retak di dalam FIFA setelah tiga konfederasi besar — UEFA Eropa, AFC Asia, dan CONCACAF Amerika Utara — menyerukan tinjauan kepemimpinan Infantino. Ketiga blok tersebut mewakili 136 dari 211 asosiasi anggota yang berhak memilih di Kongres FIFA bulan Maret depan. Infantino yang menjabat sejak 2016 akan mencalonkan dirinya untuk periode keempat.

Pemicu krisis adalah rencana Infantino menjual 20 persen hak komersial Piala Dunia ke investor swasta, diperkirakan mengantongi 4,2 miliar dolar AS. Proposal itu melibatkan Thrive Capital, firma venture capital yang memiliki keterkaitan keluarga dengan Presiden AS Donald Trump. Setiap asosiasi anggota dijanjikan hibah 20 juta dolar per siklus pendanaan, yang bisa dilipatgandakan jika kesepakatan ditandatangani.

"Kami meminta tinjauan independen karena kami tidak ingin melihat semacam penutupan cepat dari dalam sendiri," ujar Andrew Pragnell, Chief Executive NZF, kepada Reuters. "Tinjauan independen juga diminta konfederasi lain dan akan membantu memulihkan kepercayaan." Pragnell menambahkan ruang lingkup tinjauan harus disepakati semua konfederasi dan segera dimulai.

Berbeda dengan Selandia Baru, OFC justru mengeluarkan pernyataan mendukung Infantino. Konfederasi itu mengakui kemajuan pengembangan sepak bola di Oseania di bawah kepemimpinan FIFA saat ini. Selandia Baru sendiri adalah satu-satunya wakil OFC yang lolos ke Piala Dunia 2026, memberikan bobot politik tersendiri pada keputusannya.

Di sisi lain, Infantino tetap mengumpulkan sekutu. Enam kepala asosiasi sepak bola Arab, termasuk Qatar dan Maroko (tuan rumah Piala Dunia 2030), menyatakan dukungan penuh pada Kamis. Konfederasi Afrika (CAF) melalui komite eksekutifnya juga menyetujui dukungan secara seragam, meskipun tidak menjamin blok voting dari seluruh 54 anggotanya. Konfederasi Amerika Selatan (CONMEBOL) sebelumnya sudah menyatakan dukungan.

FIFA mengadakan pertemuan darurat di Maroko pekan lalu dan meminta maaf kepada 211 asosiasi anggota atas kesalahan penanganan proposal. Badan pengelola sepak bola dunia menegaskan kepemimpinan tetap mendukung Infantino. Namun tekanan untuk transparansi semakin besar.

Australia sebagai anggota AFC juga ikut menuntut tinjauan independen sejalan dengan posisi blok Asia, meskipun belum mengekspresikan sikap soal kepemimpinan Infantino secara publik. Pragnell menilai posisi Australia selaras dengan NZF berdasarkan komitmen Canberra pada pernyataan AFC.

Bagi sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik perhatian. PSSI sebagai anggota AFC secara otomatis terikat pada posisi konfederasi Asia yang menuntut tinjauan. Indonesia yang sedang mengembangkan liga dan timnas di bawah era Erick Thohir perlu memantau apakah krisis kepemimpinan FIFA berdampak pada program pengembangan seperti FIFA Forward yang menyalurkan dana ke asosiasi anggota.

Krisis ini juga menyoroti tata kelola baik (good governance) di organisasi olahraga global. Masuknya investor swasta dengan keterkaitan politik ke komersialisasi Piala Dunia memicu kecurigaan soal konflik kepentingan. Tinjauan independen yang dituntut NZF, AFC, dan Australia bisa menjadi uji nyata reformasi FIFA.

Langkah selanjutnya akan ditentukan di Kongres FIFA Maret 2026. Jika tinjauan independen terealisasi sebelum itu, temuan-temuannya bisa memengaruhi dinamika pemilihan. Infantino yang selama ini mengandalkan basis dukungan Afrika, Asia bagian timur, dan Amerika Tengah kini menghadapi tekanan tak terduga dari anggota AFC sendiri — Selandia Baru dan Australia — serta blok Eropa yang tradisional lawan kebijakannya.

Pragnell menegaskan urgensi: "Ruang lingkup harus dipertimbangkan dengan cermat, tapi yang terpenting semua konfederasi sepakat soal ruang lingkup itu, dan harus segera dimulai." Apakah FIFA akan mengakomodir tuntutan transparansi atau mempertahankan status quo, akan menentukan arah sepak bola dunia di tahun-tahun mendatang.

Mengapa Ini Penting

Krisis kepemimpinan FIFA ini bukan sekadar politik olahraga — ia menentukan arah dana pengembangan sepak bola global termasuk untuk Indonesia melalui program FIFA Forward. Masuknya investor swasta dengan keterkaitan politik ke komersialisasi Piala Dunia menciptakan preseden berbahaya bagi integritas turnamen terbesar dunia. Posisi Selandia Baru dan Australia yang menentang blok Asia sendiri menunjukkan pergeseran dinamika kekuasaan di FIFA yang selama ini didominasi politik blok voting. Bagi PSSI dan Erick Thohir, ini momen krusial untuk menilai apakah reformasi tata kelola FIFA akan berlanjut atau hanya lip service.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
14 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit