Sebuah hunian unik di Surabaya, yang dikenal dengan sebutan SE House, menjadi bukti nyata bagaimana estetika desain Australia dapat beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia. Sang pemilik rumah, yang memiliki latar belakang pengalaman tinggal di Australia, menginginkan hunian yang mengedepankan keterbukaan, kejujuran material, dan kenyamanan keluarga. Tantangan utamanya adalah menyesuaikan konsep tersebut dengan lokasi lahan di Surabaya Barat yang padat dan memiliki iklim panas serta lembap.
Untuk mewujudkan visinya, pemilik rumah bekerja sama dengan arsitek Giovanni Gunawan dari firma KantorGG. Sebagai lulusan Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Giovanni memiliki pemahaman mendalam tentang gaya arsitektur Australia. Namun, sebagai arsitek lokal, ia juga sangat memahami tantangan iklim dan norma budaya di Indonesia. Kolaborasi ini menghasilkan desain yang mampu menyeimbangkan keinginan estetika klien dengan kebutuhan fungsional di lingkungan tropis.
Salah satu elemen kunci dalam desain rumah ini adalah penggunaan tata letak berbentuk 'C' yang mengelilingi halaman tengah (courtyard). Konsep ini dipilih untuk memberikan privasi maksimal dari kebisingan jalan raya dan area sekitar yang padat. Dengan mengarahkan orientasi rumah ke dalam, pemilik hunian mendapatkan ruang pribadi yang tenang serta sirkulasi udara yang lebih baik, sekaligus menciptakan oase hijau di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya.
Material yang dipilih mencerminkan filosofi kejujuran dalam arsitektur Australia. Giovanni menggunakan palet warna hangat seperti cokelat, abu-abu, dan krem dengan sentuhan alami, menghindari penggunaan permukaan yang terlalu mengilap. Material seperti batu travertine dan marmer dibiarkan tampil apa adanya untuk menunjukkan tekstur dan karakter aslinya, menciptakan suasana yang tenang, bersahaja, namun tetap terlihat mewah dan elegan.
Rumah setinggi tiga setengah lantai ini dirancang untuk mendukung kebutuhan hunian multi-generasi. Tata ruang dan sirkulasi internal diatur sedemikian rupa agar dapat mengakomodasi privasi setiap anggota keluarga sekaligus menyediakan ruang untuk menjamu tamu. Di area pintu masuk, sebuah dinding kaca dengan tirai air terjun ditempatkan untuk menyamarkan pandangan dari luar, memperkuat kesan privasi sejak langkah pertama memasuki rumah.
Proses perancangan hunian ini merupakan hasil negosiasi kreatif antara ekspektasi pemilik rumah dan realitas teknis di lapangan. Meskipun hasil akhirnya tidak sepenuhnya identik dengan konsep awal di Australia, sang arsitek berhasil menerjemahkannya ke dalam bentuk yang tetap memuaskan keinginan klien. Rumah ini kini menjadi contoh bagaimana arsitektur lintas budaya dapat hidup berdampingan dengan harmonis jika direncanakan dengan pemahaman mendalam terhadap lokasi dan iklim setempat.