Serangan drone Israel menghantam kantor polisi di Kamp Jabalia, Gaza utara, pada Selasa (14/7) siang waktu setempat. Delapan orang tewas dalam serangan itu, termasuk Kepala Kepolisian setempat dan enam personel kepolisian lainnya.
Kementerian Dalam Negeri Gaza menyebut serangan itu sebagai 'pembantaian mengerikan' terhadap aparat kepolisian yang bertugas menjaga keamanan. Seorang warga sipil juga dilaporkan menjadi korban dalam insiden tersebut.
Laporan dari wartawan Al Jazeera, Hani Mahmoud, menyebutkan bahwa lokasi serangan berada di kawasan Al-Faluja, barat Kamp Jabalia. Area itu dikenal sebagai pasar di tengah perkemahan pengungsian yang padat penduduk.
'Pekerjaan mereka adalah menjaga ketertiban dan organisasi di lokasi yang menjadi pusat aktivitas warga,' ujar Mahmoud.
Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang disepakati pada Oktober tahun lalu antara Israel dan Hamas. Namun kenyataannya, serangan militer Israel terus berlangsung hampir setiap hari di berbagai titik di Gaza.
Pada hari yang sama, serangan Israel lainnya terjadi di Khan Younis, Gaza selatan. Seorang pria tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat serangan udara. Di sisi lain, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun tewas tertembak senapan mesin berat Israel di daerah Al-Mawasi.
Korban anak-anak terus berjatuhan. Mahmoud melaporkan bahwa anak itu terluka parah dan meninggal sebelum sempat dilarikan ke Rumah Sakit Nasser. 'Hanya seorang anak lagi, keluarga yang berduka lagi, pengingat lain dari biaya kemanusiaan dari aksi genosida yang sedang berlangsung,' tambahnya.
Kementerian Kesehatan Gaza merilis data terbaru bahwa sejak 7 Oktober 2023, total korban jiwa di Gaza telah mencapai 73.233 orang, dan 173.707 luka-luka. Sejak gencatan senjata Oktober, setidaknya 1.110 orang tewas.
Dari perspektif Indonesia, serangan ini kembali menegaskan kegagalan komunitas internasional dalam menghentikan kekerasan. Indonesia secara konsisten mengecam pendudukan Israel dan menyerukan solusi dua negara.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia terkait insiden ini, namun publik dan organisasi kemanusiaan di Indonesia biasanya merespons dengan cepat melalui aksi solidaritas. Banyak kalangan berharap agar tekanan diplomatik global dapat segera diintensifkan untuk mencegah lebih banyak korban sipil.
Ke depan, situasi di Gaza masih sangat rapuh. Langkah selanjutnya tergantung pada tekanan internasional terhadap Israel dan kemampuan faksi-faksi Palestina untuk menjaga gencatan senjata yang sudah rapuh sejak awal.