Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terbakar di lepas pantai Oman pada Senin malam. Menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), insiden tersebut terjadi akibat hantaman proyektil tak dikenal saat kapal melintas di Selat Hormuz. Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai pelaku, laporan dari Axios yang mengutip pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) diduga menembakkan setidaknya dua rudal ke arah kapal komersial di jalur strategis tersebut.
Laporan awal menunjukkan bahwa dua kapal mengalami kerusakan signifikan, namun beruntung tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Salah satu kapal yang diidentifikasi oleh sumber Reuters adalah tanker LNG asal Qatar bernama Al Rekayyat. Kapal tersebut sempat mengirimkan sinyal bahaya setelah mengalami kebakaran di ruang mesin, yang memicu kekhawatiran akan adanya risiko ledakan lebih lanjut. Sementara itu, kapal kedua yang diduga menjadi sasaran adalah tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi.
Insiden ini terjadi di tengah berlangsungnya negosiasi perdamaian yang sangat sensitif antara Amerika Serikat dan Iran. Upaya diplomatik ini bertujuan untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berkecamuk sejak 28 Februari lalu. Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu poin perdebatan utama dalam perundingan tersebut, mengingat Iran telah menutup jalur pelayaran ini sejak dimulainya serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Situasi keamanan di kawasan ini semakin kompleks dengan adanya periode berkabung atas wafatnya mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei tewas dalam serangan udara yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada hari pertama perang pecah. Eskalasi militer di Selat Hormuz ini dipandang banyak pihak sebagai potensi ancaman serius yang dapat menggagalkan kemajuan dalam pembicaraan gencatan senjata yang tengah diupayakan oleh komunitas internasional.
Analis yang berbasis di Teheran, Hossein Royvaran, memberikan perspektif berbeda terkait insiden tersebut. Menurutnya, kemungkinan besar kapal-kapal tersebut tidak sengaja memasuki wilayah di mana pasukan Iran sedang melakukan operasi pembersihan ranjau laut. Royvaran menyebutkan bahwa rute pelayaran yang aman telah ditetapkan oleh IRGC sejak April lalu, namun kapal-kapal yang melintas di luar koridor yang disetujui berisiko tinggi terkena dampak dari operasi militer tersebut.
Hingga saat ini, baik Komando Pusat AS (CENTCOM) maupun pihak IRGC belum memberikan pernyataan resmi mengenai insiden tersebut. Otoritas Iran sendiri sempat mengklaim melalui media lokal bahwa tanker LNG tersebut diserang setelah mengabaikan serangkaian peringatan keamanan. Ketidakpastian situasi ini menciptakan volatilitas di pasar energi global, mengingat Selat Hormuz adalah jalur arteri vital bagi distribusi minyak dan gas dunia yang sangat krusial bagi stabilitas ekonomi internasional.