Internasional

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Tiga Warga, Termasuk Seorang Anak

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan Tiga Warga, Termasuk Seorang Anak

Ringkasan

  • Serangan udara Israel di Deir el-Balah, Gaza, menewaskan tiga orang termasuk seorang anak, di tengah terus berlanjutnya pelanggaran gencatan senjata.

Serangan udara yang dilancarkan militer Israel di wilayah Deir el-Balah, Gaza tengah, kembali memakan korban jiwa. Otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa setidaknya tiga orang tewas dalam insiden yang terjadi di dekat Jembatan Wadi Salqa, Jalan al-Baraka tersebut. Para korban yang diidentifikasi oleh kantor berita Wafa adalah Ali Fayez Isbaitan, Hassan Salman al-Hanajra, serta seorang anak berusia delapan tahun bernama Malik Wael Abu Shaweesh.

Selain korban tewas, serangan ini juga mengakibatkan beberapa warga lainnya mengalami luka-luka. Para korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa untuk mendapatkan perawatan medis intensif. Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di tengah status gencatan senjata yang seharusnya masih berlaku sejak Oktober lalu, namun terus diwarnai dengan berbagai pelanggaran di lapangan.

Situasi keamanan di Gaza semakin memburuk dengan pergerakan kendaraan militer Israel yang terpantau merangsek ke Jalan Salah al-Din di kamp pengungsi Nuseirat. Laporan dari kantor berita Anadolu menyebutkan adanya aksi penembakan dan artileri berat di wilayah tersebut. Selain di pusat Gaza, wilayah utara seperti Beit Lahiya juga tidak luput dari serangan, di mana dua orang dilaporkan terluka akibat gempuran artileri.

Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, telah terjadi 3.465 pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan Israel. Tercatat sebanyak 1.045 warga Palestina tewas dan lebih dari 3.380 orang mengalami luka-luka akibat serangan berkelanjutan tersebut. Pemerintah setempat mengecam keras kebijakan sistematis pendudukan Israel yang terus menargetkan warga sipil dan menghancurkan infrastruktur krusial.

Dalam laporannya, pihak berwenang Gaza mendesak para mediator internasional untuk segera bertindak dan memaksa Israel mematuhi ketentuan gencatan senjata. Hingga saat ini, total korban jiwa sejak konflik eskalasi dimulai pada Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 73.000 orang, dengan jumlah warga yang terluka melampaui 173.000 jiwa. Angka-angka ini mencerminkan krisis kemanusiaan yang sangat parah di wilayah tersebut.

Selain serangan fisik, militer Israel dilaporkan terus memperluas area pendudukan dan mengeluarkan perintah pengusiran paksa. Mereka telah menetapkan zona terlarang yang dikenal dengan istilah 'Garis Kuning', yang kini mencakup sekitar 64 persen wilayah Gaza. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan telah menginstruksikan pasukannya untuk menduduki hingga 70 persen dari total wilayah Jalur Gaza, yang semakin mempersempit ruang gerak bagi warga sipil yang terjebak di zona konflik.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti rapuhnya stabilitas geopolitik di Timur Tengah yang berdampak langsung pada sentimen global dan stabilitas ekonomi internasional. Bagi Indonesia, isu ini merupakan perhatian diplomasi utama yang memengaruhi kebijakan luar negeri serta solidaritas kemanusiaan nasional.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
29 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit