Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa setidaknya 16 warga Palestina telah kehilangan nyawa akibat serangan militer Israel dalam kurun waktu 48 jam terakhir. Angka tersebut mencakup tujuh orang yang tewas dalam serangan langsung dan sembilan jenazah lainnya yang berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat gempuran sebelumnya.
Selain korban jiwa, pihak kementerian mencatat sedikitnya 16 orang mengalami luka-luka dalam periode yang sama. Upaya evakuasi di lapangan dilaporkan sangat terkendala, mengingat petugas ambulans dan tim pertahanan sipil kesulitan menjangkau lokasi-lokasi yang tertimbun reruntuhan akibat akses yang terbatas dan situasi keamanan yang belum kondusif.
Kementerian tidak memberikan rincian spesifik mengenai kondisi di balik insiden penyerangan tersebut. Namun, peristiwa ini menegaskan bahwa meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat sejak Oktober lalu, ketegangan dan kekerasan di wilayah kantong tersebut masih terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda.
Data terbaru ini menambah daftar panjang korban jiwa dalam konflik yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban tewas telah mencapai 73.090 jiwa, dengan jumlah korban luka-luka melonjak hingga 173.550 orang. Angka ini mencakup ribuan korban yang jatuh selama periode gencatan senjata nominal berlangsung.
Di sisi lain, militer Israel terus memperluas kendali teritorial mereka di dalam wilayah Gaza. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya telah memberikan instruksi untuk memperluas kendali militer hingga mencakup lebih dari 70 persen wilayah Jalur Gaza, yang dibarengi dengan perintah pengungsian paksa terhadap penduduk setempat.
Proses negosiasi untuk tahap kedua gencatan senjata saat ini dilaporkan menemui jalan buntu. Kesepakatan yang seharusnya mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza masih terhambat oleh perbedaan pandangan yang tajam antara kedua belah pihak. Hal ini menyebabkan ketidakpastian nasib warga sipil di Gaza yang terus terjebak dalam eskalasi militer yang berkepanjangan.