Raksasa mode cepat asal China, Shein, dikabarkan akan meluncurkan penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Efek Hong Kong pada Rabu pekan depan. Kabar ini disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui langsung rencana tersebut kepada Reuters, Selasa (11/8/2025). Jika terwujud, langkah ini akan menjadi salah satu pencatatan saham paling dinantikan di Asia tahun ini.
Shein sendiri belum memberi tanggapan resmi atas permintaan konfirmasi dari Reuters. Namun, sumber yang sama menyebut bahwa persiapan dokumen dan roadshow tengah berada di tahap final. Keputusan untuk melaju ke Hong Kong mengakhiri spekulasi panjang tentang tujuan bursa yang akan dipilih perusahaan, setelah sebelumnya santer beredar kabar rencana IPO di New York atau London.
Kabar IPO ini muncul di tengah tekanan regulasi yang meningkat terhadap Shein di sejumlah pasar utama. Di Amerika Serikat, perusahaan menghadapi ancaman larangan impor jika tidak memenuhi standar ketenagakerjaan. Sementara itu, Uni Eropa mulai memberlakukan aturan baru yang lebih ketat terhadap produk mode cepat dari luar kawasan. Hong Kong menjadi opsi yang lebih netral dan dekat dengan basis operasional perusahaan di Guangzhou.
Shein dikenal sebagai platform belanja online yang menjual pakaian dengan harga sangat terjangkau, sering kali di bawah Rp50 ribu per potong. Model bisnisnya mengandalkan rantai pasok ultra-cepat yang mampu meluncurkan ribuan desain baru setiap hari. Berkat efisiensi ini, Shein tumbuh fenomenal dalam satu dekade terakhir dan kini menjadi salah satu aplikasi belanja paling banyak diunduh di dunia, termasuk di Indonesia.
Nilai IPO Shein diperkirakan menembus angka yang sangat besar. Sebelumnya, perusahaan sempat mencapai valuasi sekitar 100 miliar dolar AS atau setara Rp1.500 triliun dalam putaran pendanaan terakhir. Namun, tekanan politik di Washington dan meningkatnya persaingan dari pemain seperti Temu dan Cider memaksa Shein menurunkan ekspektasi valuasi hingga di kisaran 60-80 miliar dolar AS.
Bagi Indonesia, kabar ini punya arti penting yang tidak bisa diabaikan. Shein adalah salah satu platform favorit generasi muda Indonesia yang gemar berbelanja pakaian impor murah. Data internal perusahaan sempat menyebut Indonesia sebagai salah satu dari lima pasar terbesarnya di Asia Tenggara. Dengan dana segar hasil IPO, Shein berpotensi memperkuat operasi logistik dan pemasaran di Tanah Air.
Di sisi lain, kehadiran Shein yang semakin agresif bisa menekan pelaku usaha mode lokal. Sejumlah brand lokal seperti Erigo, Avenue, dan Thank You Have A Nice Day telah membangun basis pelanggan setia dengan mengusung identitas lokal. Persaingan harga dengan produk Shein yang sangat murah memang menjadi tantangan, tetapi segmentasi pasar mereka berbeda. Brand lokal lebih fokus pada desain berkarakter dan kolaborasi dengan komunitas.
Pelaku industri tekstil dalam negeri juga perlu mencermati langkah ekspansi Shein pasca-IPO. Jika perusahaan memperbesar pangsa pasar melalui iklan dan subsidi ongkos kirim, produk impor murah akan semakin membanjiri e-commerce Indonesia. Ini bisa menggerus permintaan terhadap produk garmen lokal, terutama di segmen pakaian kasual dan muslimah yang selama ini menjadi andalan ekspor.
Shein juga harus berhadapan dengan regulasi Indonesia. Pemerintah telah memberlakukan aturan yang membatasi barang impor di bawah USD100 untuk melindungi UMKM. Namun, jalur perdagangan lintas batas melalui platform digital kerap menjadi celah yang sulit diawasi. Jika Shein benar-benar go public, sorotan terhadap kepatuhan pajak dan bea cukai di berbagai negara, termasuk Indonesia, akan semakin tajam.
Sumber Reuters tidak menjelaskan lebih rinci mengenai jumlah saham yang akan dilepas atau target dana yang dihimpun. Namun, beberapa analis memperkirakan Shein akan menggunakan dana segar IPO untuk membiayai ekspansi ke kategori produk baru seperti perlengkapan rumah tangga, kosmetik, dan aksesori elektronik. Diversifikasi ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada penjualan pakaian yang marginnya tipis.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kesuksesan IPO Shein akan menjadi ujian besar bagi sentimen investor terhadap saham teknologi dan konsumer dari China. Sebelumnya, sejumlah raksasa China seperti Ant Group dan Didi batal melantai di bursa karena tekanan regulasi. Meski demikian, Hong Kong tetap menjadi magnet bagi perusahaan China yang ingin mengakses investor internasional tanpa harus tunduk pada aturan ketat Washington.
Langkah selanjutnya yang dinantikan adalah pengumuman resmi jadwal bookbuilding dan harga penawaran. Jika semua berjalan mulus, Shein akan resmi tercatat di Bursa Hong Kong pada akhir Agustus 2025. Bagi konsumen di Indonesia, IPO ini mungkin tidak akan langsung mengubah cara belanja. Namun, dalam jangka menengah, keberadaan Shein sebagai perusahaan publik akan menuntut transparansi operasional dan rantai pasok—sesuatu yang selama ini menjadi kritik terbesar atas model bisnisnya.
Dengan sumber daya finansial yang jauh lebih besar, Shein juga berpeluang memperkenalkan layanan pengiriman lebih cepat dan program loyalitas yang lebih menarik bagi konsumen Indonesia. Persaingan di pasar mode digital Asia Tenggara dipastikan akan semakin panas, terutama dengan hadirnya pemain lokal yang mulai go public pula. Pertarungan antara skala global dan kedekatan lokal akan menjadi kisah yang menarik untuk disimak dalam beberapa tahun ke depan.