Johannesburg, Afrika Selatan – Nama Mansa Musa, kaisar dari Kekaisaran Mali abad ke-14, kerap menjadi acuan setiap kali pembicaraan mengenai emas Afrika mencuat. Dikenal sebagai orang terkaya dalam sejarah, kekayaannya bersumber dari cadangan emas yang melimpah di wilayah kekuasaannya. Namun, berabad-abad setelah masa kepemimpinannya, hubungan antara Afrika dan komoditas emas tetap menyimpan paradoks yang tajam. Meskipun memiliki sekitar 40 persen cadangan emas dunia menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), benua ini seolah terjebak dalam rantai nilai global yang tidak menguntungkan.
Kesenjangan yang terjadi berakar pada pola ekspor yang masih didominasi oleh bahan mentah. Sebagian besar emas yang ditambang di Afrika dikirim ke luar negeri, terutama ke Inggris, untuk proses pemurnian, perdagangan, dan penentuan harga. Akibatnya, margin keuntungan terbesar dari industri emas justru dinikmati oleh pasar luar negeri, sementara negara-negara di Afrika hanya berperan sebagai penyedia komoditas mentah. Fenomena ini menciptakan celah ekonomi yang persisten antara proses ekstraksi dan perolehan nilai tambah ekonomi.
Kate Collett, analis dari Africa Practice, menjelaskan bahwa posisi Afrika saat ini terhambat oleh kendala struktural yang kronis. Keterbatasan kapasitas pemurnian domestik, hambatan modal, dan pola perdagangan historis yang memprioritaskan ekspor emas mentah telah melanggengkan dominasi pasar lepas pantai. Kondisi ini membuat negara-negara Afrika sulit untuk menangkap margin keuntungan maksimal dari sektor yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi mereka.
Di tengah tantangan tersebut, pemerintah di berbagai negara Afrika kini mulai berupaya untuk tidak sekadar mengekstraksi emas, tetapi juga menguasai rantai pasokannya. Kebijakan ini melampaui sekadar regulasi pertambangan; para pembuat kebijakan mulai memandang emas sebagai aset keuangan strategis. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat cadangan devisa, mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal, dan pada akhirnya mendukung kedaulatan ekonomi yang lebih besar di tingkat nasional.
Emas kini kembali dipandang sebagai aset cadangan strategis di tengah fragmentasi ekonomi global. Berbeda dengan mata uang fiat yang rentan terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, emas dianggap mampu menjaga nilai aset secara lebih stabil. Tren ini terlihat jelas di negara-negara berkembang lainnya seperti Tiongkok, Rusia, India, dan Turki, yang secara agresif meningkatkan cadangan emas mereka untuk mendiversifikasi portofolio dan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.
Mengikuti tren tersebut, negara-negara Afrika kini mengambil langkah serupa untuk meningkatkan stabilitas ekonomi. Ghana, sebagai salah satu produsen emas utama di benua tersebut, telah mulai meningkatkan porsi pembelian emas produksi lokal oleh bank sentral. Upaya ini bukan hanya sekadar strategi fiskal, melainkan langkah nyata untuk membangun penyangga cadangan keuangan yang lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada mata uang asing dalam sistem keuangan global yang kian tidak menentu.