Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sepakat memperkuat kerja sama lintas batas. Fokus utama meliputi ketahanan pangan dan sektor energi.
Pertemuan bilateral tersebut berlangsung di Malaysia pada Senin (14/7) dalam rangka kunjungan kenegaraan Tharman. Kementerian Luar Negeri Singapura (MFA) mencatat komitmen kedua pemimpin untuk menggali peluang kolaborasi strategis di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Hubungan bilateral Singapura dan Malaysia kerap diwarnai isu sensitif, mulai dari harga air hingga ruang udara. Era kepemimpinan Anwar dan Tharman membuka lembaran baru yang lebih pragmatis. Kedua negara menyadari bahwa tantangan lintas batas seperti krisis iklim dan disrupsi rantai pasok menuntut pendekatan yang lebih konstruktif.
Dalam pertemuan dengan Anwar, kedua pemimpin menukar pandangan mengenai perkembangan geopolitik, termasuk situasi di Timur Tengah. Mereka menegaskan kembali pentingnya menjunjung tinggi hukum internasional, khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS). Kebebasan navigasi laut menjadi pilar yang dijaga ketat mengingat kedua negara bertetangga langsung di Selat Malaka.
Tharman juga bersua dengan Raja Malaysia, Sultan Ibrahim Sultan Iskandar, pada hari yang sama. Agenda pembicaraan bergeser ke arah energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan ambisi regional untuk transisi energi di tengah tekanan emisi karbon global.
Bagi Indonesia, pendekatan pragmatis antara Singapura dan Malaysia memberikan cetak biru penting bagi stabilitas ASEAN. Sebagai negara dengan garis pantai panjang, komitmen terhadap UNCLOS dan kebebasan navigasi di Selat Malaka langsung berdampak pada arus logistik nasional. Pelabuhan Tanjung Priok dan jalur perdagangan domestik sangat bergantung pada kelancaran selat tersebut.
Isu mitigasi banjir yang dibahas dalam kunjungan ke Shah Alam juga relevan dengan realitas di tanah air. Selangor menghadapi tantangan banjir tahunan yang mirip dengan kondisi Jakarta, Bandung, dan Kalimantan. Kerja sama teknis yang ditawarkan Singapura, seperti teknologi pembersihan sungai dan mitigasi banjir, dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah di Indonesia yang tengah berjuang mengatasi rob dan luapan air permukaan.
Di sisi lain, pembahasan mengenai pendidikan vokasi dan pertumbuhan startup menunjukkan arah baru ekonomi regional. Indonesia dengan ekosistem startup terbesar di Asia Tenggara bisa mengambil manfaat dari jembatan kolaborasi antara Singapura dan Malaysia. Sinergi tiga negara berpotensi menciptakan ekosistem teknologi yang lebih tangguh di Kawasan Asia Tenggara.
Dalam sesi di Shah Alam, Tharman bertemu dengan Sultan Selangor Sharafuddin Idris Shah dan Menteri Besar Selangor Amirudin Shari. Kantor Kerajaan Selangor melalui unggahan Facebook menyebut negara bagian tersebut memiliki tantangan banjir serius. Mereka menyatakan siap belajar dari penggunaan teknologi mitigasi banjir dan metode pembersihan sungai yang telah diterapkan Singapura.
Tharman menyampaikan pandangannya mengenai tatanan dunia pasca-unipolar dalam jamuan makan malam yang diselenggarakan Kuala Lumpur Business Club. Di hadapan para pemimpin sektor ekonomi dan keuangan, ia menekankan perlunya mempertahankan hubungan dengan kekuatan besar sembari memperkuat jembatan dengan kawasan lain. Reformasi multilateralisme serta akselerasi integrasi ASEAN menjadi resep yang ia tawarkan untuk menghadapi gejolak global.
Kunjungan kenegaraan ini ditutup dengan sarapan diskusi meja bundar bersama para pemimpin bisnis pada Rabu (15/7) sebelum Tharman meninggalkan Malaysia. Forum tersebut diproyeksikan menghasilkan komitmen investasi sektor swasta yang lebih konkret, terutama di bidang energi bersih.
Ke depan, kolaborasi teknis tingkat negara bagian seperti antara Singapura dan Selangor kemungkinan akan diperluas. Model pertukaran ini membuktikan bahwa diplomasi tidak selalu harus berada di level nasional, melainkan bisa menyentuh solusi langsung bagi masyarakat, seperti penanganan banjir dan pengembangan wirausaha muda.