Internasional

Studi Duke-NUS: Empat dari Lima Orang Dewasa di Singapura Enggan Cari Bantuan Profesional untuk Masalah Mental

Studi Duke-NUS: Empat dari Lima Orang Dewasa di Singapura Enggan Cari Bantuan Profesional untuk Masalah Mental

Ringkasan

  • Studi Duke-NUS mengungkapkan 77 persen penderita kecemasan dan depresi di Singapura enggan mencari bantuan profesional karena stigma dan privasi.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Duke-NUS Medical School mengungkapkan fakta mengkhawatirkan terkait kesehatan mental di Singapura. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hampir empat dari lima orang dewasa yang mengalami gejala kecemasan atau depresi memilih untuk tidak mencari bantuan dari tenaga profesional medis.

Data yang diterbitkan dalam Singapore Medical Journal ini diperoleh dari survei daring terhadap 350 orang dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa 77 persen responden belum pernah berkonsultasi dengan psikiater, psikolog, maupun pekerja sosial untuk mengatasi kondisi mental yang mereka alami. Temuan ini menyoroti adanya kesenjangan besar antara prevalensi gangguan mental dan akses terhadap perawatan medis yang tepat.

Associate Professor Daniel Fung, konsultan senior di Institute of Mental Health (IMH) yang juga merupakan salah satu penulis studi tersebut, mengungkapkan bahwa privasi dan kerahasiaan data masih menjadi penghalang utama. Banyak individu merasa khawatir informasi mengenai kondisi kesehatan mental mereka akan bocor, yang pada akhirnya memicu ketakutan akan penilaian negatif dari lingkungan sekitar.

Stigma sosial juga memainkan peran besar dalam fenomena ini. Banyak orang masih menganggap gangguan mental sebagai bentuk kelemahan pribadi. Di lingkungan kerja, kekhawatiran akan dampak terhadap karier membuat banyak karyawan memilih untuk menyembunyikan kondisi mereka dari atasan atau rekan kerja, bahkan ketika gejala yang dirasakan sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Budaya Asia yang cenderung tertutup dalam membahas masalah emosional pribadi turut memperburuk situasi. Seringkali, gejala gangguan mental dianggap sebagai hal yang wajar atau masalah pribadi yang harus diselesaikan sendiri, sehingga mereka enggan mencari dukungan eksternal. Hal ini menyebabkan banyak penderita terjebak dalam isolasi yang justru memperburuk kondisi kesehatan mental mereka.

Menariknya, studi ini menemukan bahwa meskipun enggan ke profesional, mayoritas responden (62 persen) justru terbuka untuk menerima dukungan dari rekan sebaya yang memiliki pengalaman serupa. Dukungan berbasis komunitas ini dianggap lebih nyaman, terutama bagi kelompok usia muda dan mereka yang sudah pernah memiliki pengalaman mencari bantuan profesional sebelumnya. Preferensi terhadap dukungan satu lawan satu atau melalui platform virtual juga menjadi catatan penting dalam pengembangan strategi intervensi kesehatan mental di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Fenomena ini relevan bagi Indonesia karena kesamaan budaya Asia yang masih menganggap kesehatan mental sebagai hal tabu dan bersifat pribadi. Temuan ini menekankan pentingnya pengembangan platform pendukung berbasis komunitas atau dukungan sebaya (peer support) sebagai jembatan sebelum masyarakat berani mengakses layanan profesional yang lebih formal.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
25 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit