Penggemar sepak bola yang berencana menyaksikan pertandingan Piala Dunia di New York New Jersey Stadium kini harus menghadapi kenyataan pahit terkait aksesibilitas transportasi. Berbeda dengan sejarah penyelenggaraan Piala Dunia sebelumnya di Brasil, Rusia, atau Qatar yang memungkinkan penonton mengakses stadion dengan berjalan kaki atau melalui infrastruktur ramah pejalan kaki, MetLife Stadium di New Jersey justru menyajikan tantangan yang sangat kontras.
Kondisi geografis stadion yang terletak di kawasan Meadowlands ini menciptakan hambatan besar bagi mobilitas penonton. Stadion tersebut dikelilingi oleh jalan tol berkecepatan tinggi yang memisahkan area arena dari pemukiman padat di sekitarnya. Otoritas setempat bahkan memberlakukan larangan keras bagi pejalan kaki dan pesepeda dengan alasan keamanan, yang diperkuat oleh pagar pembatas beton dan kawat di sepanjang jalan raya utama.
Menurut Moses Gates, wakil presiden di Regional Plan Association, kompleks stadion ini dirancang pada era 1970-an sebagai fasilitas yang berorientasi pada kendaraan pribadi. Konsep 'datang dengan mobil, parkir, dan pergi dengan mobil' menjadikan stadion ini peninggalan masa lalu yang tidak relevan dengan kebutuhan mobilitas modern yang berkelanjutan dan inklusif bagi massa dalam jumlah besar.
Ironisnya, potensi untuk menciptakan aksesibilitas yang lebih baik sebenarnya telah diidentifikasi sejak tahun 1978. Meski sempat ada wacana pengembangan jaringan jalur sepeda saat pembangunan kembali stadion pada tahun 2010, rencana tersebut tidak pernah terealisasi secara utuh. Pihak pengelola stadion kini justru menegaskan bahwa bersepeda tidak dimungkinkan karena posisi stadion yang terjepit di antara tiga jalan raya utama yang melarang kendaraan roda dua.
Situasi ini diperparah oleh kebijakan FIFA selama perhelatan Piala Dunia. Demi mengakomodasi zona keamanan dan area komersial bagi sponsor resmi, akses kendaraan pribadi dibatasi secara ketat. Akibatnya, penonton yang tidak membawa kendaraan pribadi harus berjuang dengan tarif transportasi umum yang melambung tinggi dan ketersediaan bus yang sangat terbatas, menciptakan kekacauan logistik bagi para suporter.
Ketidakmampuan infrastruktur stadion dalam mendukung moda transportasi selain mobil pribadi menjadi sorotan utama dalam penyelenggaraan turnamen tahun ini. Dengan minimnya integrasi transportasi publik dan larangan bagi pejalan kaki, pengalaman menonton pertandingan menjadi ujian ketahanan fisik dan finansial bagi para penggemar yang ingin mencapai gerbang stadion tepat waktu.