Berita

Akademisi Soroti Pentingnya Penguatan Dokumentasi Kebudayaan Bali melalui Media

Akademisi Soroti Pentingnya Penguatan Dokumentasi Kebudayaan Bali melalui Media

Ringkasan

  • Akademisi Universitas Udayana menyoroti tantangan pendokumentasian budaya Bali dan perlunya kolaborasi sektor swasta serta pemerintah untuk memperkuat arsip kebudayaan melalui media.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, Prof. Nyoman Darma Putra, menegaskan bahwa media massa memegang peranan krusial sebagai pilar utama dalam merekam jejak perjalanan kebudayaan Bali yang panjang. Dalam pandangannya, tanpa kehadiran pemberitaan media, banyak catatan sejarah penting, termasuk dinamika Pesta Kesenian Bali (PKB), akan hilang ditelan waktu dan tidak dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Berbicara dalam Diskusi Budaya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 di Denpasar, Prof. Darma menyoroti bahwa media massa bukan sekadar sarana publikasi, melainkan instrumen dokumentasi yang vital. Setiap peristiwa budaya memiliki nilai historis yang perlu dicatat secara sistematis agar masyarakat dapat memahami evolusi seni dan budaya di Pulau Dewata dari masa ke masa.

Namun, tantangan besar masih membayangi upaya pendokumentasian kebudayaan di Bali. Keterbatasan pembiayaan menjadi kendala utama bagi sanggar maupun yayasan seni dalam melakukan dokumentasi karya yang komprehensif. Mengingat banyaknya kelompok seni yang aktif, diperlukan solusi pendanaan yang lebih berkelanjutan agar seluruh karya seni dapat terdokumentasi dengan baik.

Untuk mengatasi kendala tersebut, Prof. Darma mendorong kolaborasi strategis antara pelaku seni dengan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Banyak industri, seperti perbankan dan perhotelan di Bali, sebenarnya memiliki komitmen kuat untuk mendukung pelestarian budaya, namun seringkali terkendala dalam menemukan saluran yang tepat untuk menyalurkan dukungan tersebut.

Lebih lanjut, pemerintah diharapkan dapat mengalokasikan anggaran khusus untuk publikasi dan dokumentasi kebudayaan. Dana ini dapat diarahkan untuk memberikan edukasi mendalam kepada media lokal, sehingga kualitas pemberitaan mengenai budaya tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mampu menyentuh aspek intelektual dan edukatif yang lebih mendalam bagi pembaca.

Senada dengan hal tersebut, Dewan Kehormatan PWI Bali, IGM Dwikora Putra, menambahkan bahwa media massa memiliki tanggung jawab moral untuk melampaui sekadar peliputan kegiatan. Ia menekankan pentingnya bagi jurnalis untuk mengangkat dinamika kebudayaan yang lebih substansial, sehingga hasil pemberitaan dapat menjadi referensi intelektual yang berharga bagi peneliti dan masyarakat di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti urgensi digitalisasi arsip budaya sebagai aset intelektual bangsa di tengah era informasi. Bagi industri kreatif dan teknologi, ini membuka peluang pengembangan platform dokumentasi digital yang mampu menghubungkan kelompok seni dengan pendanaan CSR secara transparan dan efisien.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit