Centre for Orangutan Protection (COP) melaporkan bahwa tiga individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang baru saja dilepasliarkan ke habitat aslinya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, terpantau beradaptasi dengan baik. Proses pelepasliaran yang dilakukan pada 24 Juni 2026 ini melibatkan kolaborasi strategis antara COP, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, serta Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau.
Direktur COP, Daniek Hendarto, menyatakan bahwa berdasarkan pengamatan intensif di lapangan, ketiga orangutan yang diberi nama Bagus, Eboni, dan Ruby tersebut menunjukkan aktivitas yang normal. Mereka terpantau aktif menjelajahi area hutan di sekitar titik pelepasliaran dan telah berhasil membangun sarang tidak jauh dari lokasi awal pelepasan, yang menjadi indikator positif kesiapan mereka hidup di alam liar.
Perjalanan menuju kebebasan ketiga primata ini dimulai sehari sebelumnya, yakni pada 23 Juni 2026. Bagus, yang sebelumnya menghuni pusat rehabilitasi di pulau pra-pelepasliaran Bawan, Berau, harus menempuh perjalanan darat selama delapan jam dan perjalanan sungai selama tiga jam. Proses evakuasi dan relokasi ini dikawal ketat oleh tim Seksi Konservasi Wilayah 1 Berau untuk memastikan kesehatan dan keamanan satwa selama transit.
Sementara itu, Eboni dan Ruby yang berasal dari pulau pra-pelepasliaran Hagar dan Lambeng, dipindahkan dengan pendampingan medis dari tim COP serta pengawalan dari tim Seksi Konservasi Wilayah 2 Tenggarong dan KPHP Kelinjau. Seluruh proses pemindahan dirancang sedemikian rupa untuk meminimalisir stres pada satwa sebelum akhirnya dilepas ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat.
Pada hari pelepasliaran, ketiga individu tersebut dilepaskan secara bertahap di tiga titik yang berbeda. Daniek menambahkan bahwa saat pintu kandang transportasi dibuka, ketiganya segera memanjat pohon setinggi lebih dari lima meter. Respons cepat ini menunjukkan naluri alami yang baik dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan hutan yang baru bagi mereka.
Sebagai upaya menjamin keberhasilan konservasi ini, pihak COP akan terus melakukan pemantauan intensif selama tiga bulan ke depan. Dua staf ahli akan bertugas mengawasi pergerakan Bagus, Eboni, dan Ruby setiap hari, mulai dari sebelum fajar hingga mereka membuat sarang di malam hari. Langkah ini krusial untuk memastikan bahwa ketiganya mampu bertahan hidup dan berkembang biak secara mandiri di habitat alaminya tanpa gangguan manusia.