Tim nasional Iran meninggalkan pesan emosional di ruang ganti stadion setelah pertandingan melawan Mesir berakhir imbang 1-1 pada Jumat lalu. Dalam catatan tertulis tersebut, skuad asuhan Amir Ghalenoei menyampaikan terima kasih kepada kota Seattle atas keramahannya selama gelaran Piala Dunia, sekaligus menyiratkan kekecewaan mendalam atas hasil pertandingan yang membuat posisi mereka di fase gugur menjadi tidak menentu.
Harapan Iran untuk mengamankan tiket otomatis ke babak 32 besar sempat membuncah ketika Shoja Khalilzadeh mencetak gol di masa tambahan waktu. Namun, momen euforia pendukung Iran seketika berubah menjadi kekecewaan setelah peninjauan VAR memutuskan gol tersebut tidak sah karena offside. Keputusan krusial ini menjadi pukulan telak bagi langkah Iran di turnamen.
Dalam pesan tulisan tangan yang dirilis oleh federasi sepak bola Iran, tim menegaskan pandangan mereka mengenai sportivitas. "Sebuah tim mungkin bisa lolos dari grup, namun hanya melalui keadilan dan kehormatan seseorang bisa berdiri tegak di hadapan sejarah. Fairplay bukan sekadar baris dalam aturan sepak bola, melainkan jiwa dari permainan itu sendiri," tulis mereka dalam pesan tersebut.
Selain menyinggung soal teknis pertandingan, timnas Iran juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pendukung mereka. "Terima kasih, Seattle atas keramahan Anda, dan terima kasih kepada semua warga Iran yang telah memberikan hati, suara, dan seluruh jiwa mereka untuk Iran," tambah pesan tersebut. Ini merupakan kali kedua Iran meninggalkan pesan serupa setelah sebelumnya melakukan hal yang sama di Los Angeles.
Dengan raihan tiga poin di Grup G, nasib Iran kini bergantung pada hasil pertandingan grup lainnya pada hari Sabtu. Mereka harus menunggu kepastian apakah akan menjadi salah satu dari delapan tim peringkat ketiga terbaik yang berhak melaju ke babak berikutnya. Situasi ini menambah ketegangan bagi para pemain yang telah berjuang di tengah berbagai kendala logistik.
Pelatih Amir Ghalenoei dan kapten Mehdi Taremi secara terbuka mengkritik pembatasan pergerakan yang diberlakukan pemerintah AS terhadap tim mereka. Meski beberapa aturan dilonggarkan, mereka merasa perlakuan ini tidak adil bagi atlet. Ghalenoei secara tegas mendesak FIFA untuk memastikan tuan rumah Piala Dunia di masa depan tidak memperlakukan tim peserta dengan cara diskriminatif seperti yang mereka alami.