Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan terobosan alat mekanisasi pertanian berupa traktor perahu bermotor listrik. Inovasi ini ditujukan bagi areal persawahan di lahan gambut yang memiliki daya dukung tanah rendah. Kendaraan taktis tersebut sengaja didesain menyerupai lambung kapal agar mampu meluncur di atas permukaan lahan basah tanpa risiko amblas atau tenggelam. Rektor ITS, Prof Bambang Pramujati, memimpin langsung uji coba prototipe di area lahan gambut Kampus ITS, Surabaya, pada Selasa pekan ini.
Pengembangan traktor perahu listrik berawal dari kendala lama yang dihadapi petani di ekosistem gambut. Alat berat dan traktor konvensional berbahan bakar fosil kerap merusak struktur tanah karena beban beratnya melebihi kapasitas daya dukung lahan. Kementerian Pertanian (Kementan) pun menyambut baik inovasi dari Science Techno Park (STP) Otomotif ITS ini karena menawarkan solusi nyata bagi jutaan hektare lahan gambut di Tanah Air yang belum terjangkau mekanisasi modern.
Menurut Ketua Tim Peneliti, Prof Bambang Sudarmanta, penggunaan motor listrik bukan sekadar transisi energi, melainkan langkah strategis menekan biaya operasional harian petani. Bahan bakar fosil memiliki fluktuasi harga tinggi, sementara listrik memberikan efisiensi lebih stabil untuk pengolahan tanah skala luas. Selain itu, sistem ini meminimalisir degradasi struktur tanah agar kesuburan gambut tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Prinsip flotasi menjadi kunci desain traktor ini. Tim ITS menggabungkan ilmu flotasi, mekanisasi pertanian, dan elektrifikasi sehingga alat berat tersebut bisa beroperasi di lahan berair tanpa mudah tenggelam. Berbeda dengan traktor darat yang mengejar kecepatan tinggi, prototipe ini difokuskan pada torsi besar untuk membajak dan menggemburkan tanah gambut yang liat dan berat.
Kehadiran traktor perahu listrik membuka peluang besar bagi ketahanan pangan nasional. Indonesia memiliki luas lahan gambut mencapai sekitar 14,9 juta hektare, namun pemanfaatannya untuk pertanian komoditas pangan sering terkendala minimnya alat yang ramah lingkungan dan efisien. Jika prototipe ITS ini bisa diproduksi massal dengan harga terjangkau, petani lokal di Kalimantan, Sumatra, dan Papua dapat meningkatkan produktivitas padi tanpa merusak ekosistem rawa.
Dampaknya juga dirasakan pada penciptaan lapangan kerja teknis di pedesaan. Mekanisasi berbasis listrik membutuhkan operator yang paham teknologi baterai dan sistem pendingin, bukan sekadar operator mesin diesel konvensional. Hal ini mendorong transformasi profil petani Indonesia menjadi lebih modern dan adaptif terhadap tren agrikultur 4.0.
Di sisi lain, tantangan infrastruktur pengisian daya di area persawahan terpencil masih menjadi pekerjaan rumah. Meski traktor ini mampu bertahan 3 hingga 4 jam dalam sekali pengisian penuh, akses listrik di pinggiran lahan gambut kerap belum merata. Pemerintah daerah perlu menyinkronkan program desa berlistrik dengan adopsi alat pertanian elektrifikasi ini.
"Selain itu juga, sistem ini akan meminimalisir degradasi struktur tanah, serta mendukung pertanian berkelanjutan yang rendah emisi," tutur Prof Bambang Sudarmanta yang juga menjabat sebagai Manajer STP Otomotif ITS. Pakar teknik pembakaran dan bahan bakar tersebut menekankan bahwa keunggulan utama terletak pada respon torsi instan saat tuas gas diaktifkan, menghasilkan tenaga penuh secara langsung untuk menggemburkan tanah.
Secara teknis, traktor ini menggunakan motor listrik berdaya 10 kilowatt (kW). Prof Bambang Pramujati menambahkan, sistem kelistrikan bekerja pada tegangan 72 volt dengan arus 32 ampere dan kapasitas baterai 140 ampere-hour (Ah). Layar tampilan elektronik disematkan untuk memantau kondisi baterai, pengontrol suhu, dan tegangan secara real-time guna mencegah kerusakan saat diajak bekerja berat.
Simulasi pembajakan telah membuktikan efektivitas alat ini. Pada lahan seluas satu hektare dengan dimensi 100 x 100 meter menggunakan bajak selebar 1,8 meter, traktor memerlukan 56 lintasan dengan total jarak tempuh 5,6 kilometer. Hasil uji coba memestimasikan traktor ini mampu mengolah lahan seluas 1 hektare dalam sekali pengisian daya.
Kendati demikian, tim ITS belum menuntaskan seluruh pengembangan. Mereka mendapati kendala panas berlebih saat uji coba di sawah nyata, sehingga sistem pendingin ditambahkan sebagai komponen penyempurna. Inovasi ini selaras dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kedua (tanpa kelaparan), ketujuh (energi bersih), dan kesembilan (industri dan inovasi), menandakan kesiapan Indonesia berkompetisi di sektor agritech global.