Keputusan Stefan Magnus, CEO Heveya, untuk pindah dari Singapura ke Bali awalnya direncanakan hanya berlangsung selama satu tahun. Namun, pandemi global mengubah rencana tersebut menjadi sebuah perjalanan panjang menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Bersama keluarganya, Magnus kini menetap di Sibang, Bali, di kawasan yang ia sebut sebagai Heveya Farm Sibang. Di lahan seluas 1,3 hektar ini, ia membangun kehidupan yang selaras dengan alam, berpusat pada sebuah rumah joglo tradisional Jawa yang direstorasi.
Latar belakang Magnus sebagai pengusaha di bidang perlengkapan tidur organik dan ramah lingkungan memperkuat komitmennya untuk hidup lebih sadar. Setelah tinggal di Canggu selama lima tahun, ia mulai menyadari tantangan lingkungan yang dihadapi Bali, seperti pesatnya pembangunan dan masalah pengelolaan sampah. Hal ini memicu keinginannya untuk menciptakan ekosistem hunian yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Pemilihan joglo sebagai pusat hunian bukan tanpa alasan. Struktur kayu tradisional ini dibongkar dari lokasi asalnya dan dibangun kembali di Sibang, sebuah praktik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan membangun hunian baru menggunakan beton. Joglo berukuran 15x15 meter ini dirancang dengan konsep terbuka, meminimalisir penggunaan pintu dan jendela, sehingga sirkulasi udara alami tetap terjaga sepanjang hari tanpa memerlukan pendingin ruangan.
Berbeda dengan tren properti di Bali yang cenderung membagi lahan menjadi vila-vila sewaan untuk keuntungan komersial, Magnus memilih jalan yang berbeda. Ia mempertahankan keaslian lahan dengan menanami berbagai pohon buah-buahan, memelihara lebah tanpa sengat, dan membuat kebun sayuran organik. Baginya, ketenangan dan koneksi mendalam dengan alam memberikan kepuasan batin yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar keuntungan finansial dari pengembangan properti.
Heveya Farm Sibang kini menjadi simbol pertanian regeneratif berskala mikro. Dengan lokasi yang berdekatan dengan Green School Bali, tempat putranya menimba ilmu, keluarga ini menciptakan komunitas kecil yang berfokus pada keberlanjutan. Interior joglo yang minimalis tanpa batas ruang yang kaku mencerminkan filosofi hidup mereka yang sederhana namun bermakna, di mana ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang istirahat menyatu dalam harmoni.
Kisah Stefan Magnus menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin beralih ke gaya hidup lebih hijau. Melalui restorasi bangunan tradisional dan praktik pertanian yang bertanggung jawab, ia membuktikan bahwa modernitas tidak selalu harus mengorbankan alam. Di tengah arus modernisasi Bali yang sangat cepat, keberadaan lahan seperti Heveya Farm Sibang menjadi pengingat penting akan pentingnya menjaga keseimbangan ekologis bagi generasi masa depan.