Serangan udara Arab Saudi ke Bandara Sanaa pada Senin (13/7) menandai eskalasi lintas batas paling serius di Yaman sejak 2022. Tindakan militer ini mendapat lampu hijau langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS).
Persetujuan tersebut diberikan menyusul pertukaran pesan diplomatik intens antara Riyadh dan Washington pada pekan lalu. MbS secara khusus meminta dukungan militer dan diplomatik dari Trump untuk melancarkan operasi terhadap milisi Houthi yang berafiliasi dengan Iran.
Ketegangan di Semenanjung Arab memanas di tengah konflik yang meluas antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut laporan Axios yang mengutip dua pejabat AS, kekhawatiran Saudi bermula ketika mereka menyampaikan situasi Timur Tengah, terutama Yaman, kepada Washington.
Serangan ke Sanaa pekan ini mengakhiri gencatan senjata tidak resmi yang selama empat tahun terakhir meredam konflik terbuka antara Saudi dan Houthi. Manuver Riyadh ini menjadi sinyal kuat bahwa kesepakatan senyap sebelumnya tidak lagi mampu menahan gairah perang di kawasan.
Pekan lalu, Duta Besar Arab Saudi untuk Washington bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis. Sehari berselang, Rubio kembali berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan untuk membahas kesiapan operasi militer tersebut.
Bagi Indonesia, meluasnya konflik di Timur Tengah membawa risiko langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional. Harga minyak mentah global berpotensi melonjak jika jalur pengiriman di perairan sekitar Yaman terganggu. Hal ini pada gilirannya akan mengerek subsidi energi dan memperbesar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Selain sektor energi, ketegangan Saudi-Iran melalui proxy Houthi juga mengancam keamanan jemaah haji dan warga negara Indonesia yang bekerja di kawasan Teluk. Pemerintah Indonesia kerap menghadapi dilema diplomatik ketika harus menyeimbangkan hubungan dengan negara-negara Muslim yang berseteru.
Berbeda dengan situasi di Indonesia yang menjunjung prinsip bebas aktif, intervensi militer AS di Yaman menunjukkan betapa rentannya negara-negara di kawasan terhadap pengaruh kekuatan besar. Masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim tentu akan mencermati dampak kemanusiaan dari serangan ini.
Gedung Putih menolak mengomentari detail persetujuan tersebut dan hanya merujuk pada wawancara Trump dengan Fox News pada Senin pagi. Dalam wawancara itu, Trump tidak menyebut serangan Saudi. Ia justru kembali melontarkan kritik tajam terhadap Iran di saat AS melancarkan serangan baru ke negara tersebut.
Sementara itu, Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington memilih diam ketika dimintai tanggapan terkait koordinasi dengan AS. Sikap bungkam ini mencerminkan strategi Riyadh yang ingin mengamankan dukungan Washington tanpa memicu kehebohan diplomatik lebih luas.
Jika eskalasi ini berlanjut, perang terbuka antara Saudi dan Houthi dapat segera pecah. Hal ini akan memperburuk ketegangan di Timur Tengah dan memperluas konflik bersenjata antara Amerika Serikat serta Iran ke wilayah yang lebih luas.
Langkah selanjutnya yang krusial adalah respons militer Houthi terhadap serangan Sanaa. Kemampuan rudal dan drone kelompok sekutu Iran itu akan menentukan seberapa jauh Saudi mengandalkan perlindungan sistem pertahanan AS di masa depan.