Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah menawarkan bantuan untuk mengakhiri konflik di Ukraina dalam sebuah pembicaraan telepon yang berlangsung intensif selama 90 menit dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Informasi ini disampaikan oleh ajudan Kremlin, Yury Ushakov, yang menyebut bahwa diskusi tersebut dilakukan menjelang KTT NATO yang akan segera diselenggarakan di Ankara.
Menurut pernyataan resmi yang dirilis oleh pihak Kremlin pada hari Minggu, Presiden Trump menegaskan kembali kesiapannya untuk bekerja menuju penghentian pertempuran yang cepat serta mencari solusi diplomatik atas krisis yang berkepanjangan. Ushakov mendeskripsikan percakapan tersebut sebagai diskusi yang bersifat konstruktif dan profesional, di mana Rusia menekankan pentingnya penyelesaian politik yang mempertimbangkan pendekatan mendasar dari pihak Moskow.
Di sisi lain, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengonfirmasi bahwa ia juga telah melakukan komunikasi dengan Trump pada hari Sabtu. Dalam pesan yang diunggah melalui Telegram, Zelenskyy menyatakan bahwa mereka membahas dinamika garis depan perang sepanjang 1.200 kilometer. Ia menambahkan bahwa terdapat prospek nyata untuk mengakhiri konflik ini dan menekankan bahwa tekad Amerika Serikat akan menjadi faktor krusial dalam langkah selanjutnya.
Ketegangan di lapangan tetap tinggi dengan kedua belah pihak melaporkan klaim yang saling bertentangan terkait posisi militer. Sementara Kremlin mengklaim telah menguasai kota strategis Kostiantynivka, militer Ukraina secara tegas membantah hal tersebut dan menyatakan bahwa pasukan mereka masih memegang kendali penuh. Penggunaan drone secara masif di garis depan saat ini menjadi faktor utama yang menghambat pergerakan kendaraan berat dan memicu peningkatan korban jiwa di kedua sisi.
Dalam upaya diplomatik lebih lanjut, Kremlin menyebutkan bahwa utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, akan tetap berupaya untuk menengahi kesepakatan damai. Meskipun fokus diplomasi Amerika Serikat saat ini terpecah dengan adanya konflik di Iran, pihak Rusia menyatakan harapan bahwa jalur komunikasi diplomatik akan tetap terbuka untuk mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat.
Menjelang KTT NATO yang dijadwalkan pada 7 dan 8 Juli di Ankara, para kepala negara dari 32 negara anggota diperkirakan akan hadir untuk membahas krisis keamanan global ini. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi momentum penting untuk menentukan arah kebijakan internasional terkait perang di Ukraina, dengan harapan adanya resolusi yang dapat membawa stabilitas bagi kawasan Eropa dan meminimalisir dampak ekonomi global yang ditimbulkan.