Perjalanan tim nasional Tunisia di ajang Piala Dunia tahun ini berakhir dengan catatan yang sangat mengecewakan. Upaya federasi sepak bola Tunisia untuk melakukan perombakan kepelatihan di tengah turnamen tidak membuahkan hasil, setelah pelatih kawakan asal Prancis, Herve Renard, gagal memperbaiki performa tim yang merosot tajam sepeninggal Sabri Lamouchi.
Kekalahan 3-1 dari Belanda pada Kamis lalu di Kansas City menjadi penutup perjalanan Tunisia yang berakhir tanpa satu pun kemenangan. Padahal, tim asal Afrika Utara ini datang ke panggung dunia dengan optimisme tinggi, mengingat rekor impresif mereka yang tidak kebobolan satu gol pun sepanjang babak kualifikasi. Namun, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.
Herve Renard sendiri mengakui secara terbuka bahwa tim asuhannya memang belum mencapai level yang dibutuhkan untuk bersaing di Piala Dunia. Ia menegaskan bahwa federasi perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap segala aspek tim. Menurutnya, saat ini adalah waktu bagi para pemain dan staf untuk pulang serta beristirahat sebelum mengambil keputusan krusial mengenai masa depan sepak bola Tunisia.
Catatan kelam Tunisia di turnamen ini semakin diperburuk dengan rekor kebobolan mereka. Sebanyak 12 gol bersarang di gawang mereka selama babak penyisihan grup, yang menjadikan mereka pemegang rekor kebobolan terbanyak dalam format 48 tim di Piala Dunia. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Kosta Rika pada Piala Dunia 2022.
Masalah pertahanan yang rapuh telah terlihat sejak laga pembuka saat mereka dibantai 5-1 oleh Swedia, yang memicu pemecatan Sabri Lamouchi. Sayangnya, pergantian nakhoda ke tangan Renard tidak memberikan dampak instan. Kekalahan 4-0 dari Jepang menyusul kemudian, di mana Renard mengaku merasa malu dengan penampilan anak asuhnya sebelum akhirnya ditutup dengan kekalahan dari Belanda.
Dalam laga terakhir melawan Belanda, Tunisia kembali menunjukkan kerapuhan pertahanan melalui gol bunuh diri Ellyes Skhiri pada menit ketiga. Meski sempat memperkecil ketertinggalan melalui sundulan Hazem Mastouri, hal itu tidak cukup untuk membangkitkan semangat tim yang sudah kehilangan kepercayaan diri. Kini, Tunisia harus pulang lebih awal dengan membawa beban evaluasi besar untuk menata kembali masa depan sepak bola mereka.