Sejak menjabat sebagai Sekretaris Jenderal NATO hampir dua tahun lalu, Mark Rutte telah mendedikasikan sebagian besar energinya untuk memastikan Amerika Serikat tetap menjadi pilar utama dalam aliansi militer terbesar di dunia tersebut. Rutte secara konsisten menggunakan pendekatan diplomasi yang persuasif, bahkan sesekali melontarkan pujian kepada Presiden AS Donald Trump, sebagai upaya untuk meredam ancaman Trump yang berulang kali menyatakan niat untuk menarik diri dari keanggotaan NATO.
Namun, tantangan yang dihadapi Rutte semakin kompleks seiring bergesernya tuntutan dari pihak Washington. Menjelang pertemuan puncak di Turki pekan ini, dinamika hubungan antara AS dan sekutunya kembali diuji. Jika sebelumnya fokus utama perdebatan adalah masalah pendanaan, kini tuntutan Trump mulai merambah ke aspek loyalitas politik dan keselarasan strategis yang lebih luas.
Pada awalnya, isu utama yang diangkat Trump adalah ketidakadilan beban anggaran pertahanan, di mana ia menuduh sekutu NATO menghabiskan terlalu sedikit dana dari anggaran nasional mereka. Isu ini sebenarnya telah coba diselesaikan pada pertemuan puncak tahun lalu, di mana negara-negara sekutu sepakat untuk meningkatkan investasi pertahanan mereka agar setara dengan kontribusi Amerika Serikat jika diukur berdasarkan persentase Produk Domestik Bruto (PDB).
Saat ini, tantangan nyata yang dihadapi NATO bukan lagi sekadar ketersediaan dana, melainkan bagaimana mengonversi komitmen finansial tersebut menjadi kapabilitas militer yang konkret. Hal ini menjadi krusial di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Eropa akan potensi eskalasi ancaman serangan dari Rusia yang semakin tidak terprediksi di kawasan perbatasan.
Dalam upaya meredam kekhawatiran Trump, Rutte sempat memaparkan data dalam pertemuan di Gedung Putih bulan lalu. Ia menggunakan infografis bertajuk "The Trump Trillion" yang mencatat akumulasi pengeluaran pertahanan sebesar US$1,2 triliun oleh sekutu Eropa dan Kanada sejak tahun 2017. Rutte berharap data ini dapat meyakinkan Trump mengenai komitmen nyata para sekutu terhadap aliansi.
Sayangnya, upaya tersebut tampaknya belum membuahkan hasil maksimal. Presiden Trump dikabarkan tetap menyatakan kekecewaannya, terutama terkait keengganan beberapa negara anggota NATO untuk terlibat dalam konflik Iran. Trump merasa bahwa sekutu seharusnya memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan luar negerinya, termasuk operasi militer yang ia luncurkan bersama Israel tanpa melalui konsultasi mendalam dengan negara-negara anggota aliansi lainnya.