Ukraina kembali melancarkan serangan udara skala besar yang menargetkan infrastruktur energi Rusia. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengonfirmasi bahwa militer negaranya berhasil menghantam dua kilang minyak penting, yakni Slavyansk dan Yaroslavl, menggunakan drone jarak jauh dalam operasi yang berlangsung pada akhir pekan lalu. Serangan ini mencakup target yang berjarak hingga 700 kilometer dari garis depan pertempuran, menandai peningkatan kemampuan jangkauan serangan Kyiv.
Zelenskyy menyatakan bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi sistematis untuk melumpuhkan mesin perang Rusia dengan membatasi sumber daya energi yang mereka miliki. Menurutnya, setiap serangan yang berhasil merusak infrastruktur bahan bakar akan secara langsung mengurangi kapasitas Rusia dalam membiayai dan mendukung operasi militer mereka di Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform media sosial X sebagai bentuk penegasan posisi Ukraina dalam konflik yang terus berkepanjangan.
Di pihak Rusia, otoritas setempat melaporkan dampak kerusakan yang signifikan. Gubernur Krasnodar, Veniamin Kondratyev, menyatakan bahwa kebakaran hebat terjadi di kilang minyak Slavyansk-na-Kubani akibat serangan drone tersebut. Selain kerusakan pada fasilitas industri, puing-puing drone dilaporkan merusak sejumlah rumah penduduk di sekitar lokasi, dan setidaknya satu orang dinyatakan tewas dalam insiden tersebut.
Situasi serupa terjadi di wilayah Yaroslavl, di mana Gubernur Mikhail Yevrayev menginstruksikan penutupan akses keluar kota sebagai langkah pencegahan keamanan. Sementara itu, di wilayah Belgorod, ketegangan meningkat setelah tercatat adanya 64 serangan drone dalam kurun waktu 24 jam, yang mengakibatkan tambahan korban jiwa. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim bahwa sistem pertahanan udara mereka telah menembak jatuh 117 drone Ukraina, meskipun beberapa perangkat peledak tetap berhasil mengenai sasaran di wilayah mereka.
Serangkaian serangan ini bukan merupakan insiden terisolasi. Sebelumnya, Ukraina juga telah menargetkan fasilitas bahan bakar di Kerch, Krimea, serta pelabuhan Kavkaz, yang berperan vital dalam menyuplai bahan bakar ke garis depan Rusia. Kampanye sistematis terhadap sektor energi ini telah memberikan tekanan nyata pada ekonomi Rusia, yang dilaporkan memicu kelangkaan bahan bakar di beberapa wilayah, termasuk di Krimea yang telah diduduki.
Di tengah eskalasi pertempuran, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesediaan untuk kembali ke meja perundingan. Namun, tawaran tersebut tetap berpegang pada persyaratan yang diajukan dalam pembicaraan Istanbul tahun 2022, termasuk tuntutan agar Ukraina menyerahkan wilayah Donbas. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa pasukan mereka terus membuat kemajuan di garis depan sebelah barat Lyman, dengan klaim telah menghancurkan berbagai sistem robotik dan pusat kendali drone milik Ukraina dalam pertempuran darat yang masih terus berlanjut.