Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat kembali menggelar latihan gabungan tahunan Ulchi Freedom Shield (UFS) mulai 17 Agustus. Latihan selama 11 hari ini melibatkan 18.000 personel Korea Selatan dan 28.500 tentara AS yang bermarkas di Semenanjung Korea.
Juru bicara Komando Pasukan Gabungan AS-Korea Selatan, Kolonel Ryan Donald, menegaskan bahwa latihan ini bukan sekadar agenda rutin. Ada pergeseran besar yang menjadi perhatian kedua negara: pengalaman tempur yang diperoleh pasukan Korea Utara di medan perang Ukraina.
"Mereka telah mengambil pelajaran yang mereka peroleh di sana dan membawanya kembali ke Korea Utara," ujar Donald dalam pernyataan resminya.
Latihan tahun ini memberi penekanan khusus pada tiga area: perang drone, gangguan sistem GPS, dan serangan siber. Ketiga domain tersebut dinilai menjadi senjata baru yang dikuasai Pyongyang setelah mengirim ribuan pasukan membantu Rusia sejak invasi skala penuh ke Ukraina pada 2022.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pernyataan di media sosial akhir pekan lalu mengungkapkan, keputusan telah dibuat untuk menempatkan 30.000 hingga 50.000 warga Korea Utara di wilayah Rusia. Jumlah tersebut meningkat signifikan dari perkiraan sebelumnya yang hanya berkisar 10.000-12.000 personel.
Bagi Korea Selatan, fakta ini menjadi alarm keras. Tentara Korea Utara yang bertugas di Ukraina bukan sekadar penonton. Mereka terlibat langsung dalam operasi militer modern, mempelajari taktik perang drone FPV, navigasi tanpa GPS, serta koordinasi serangan siber yang dipadukan dengan operasi konvensional.
Analis militer di Seoul menilai bahwa pengalaman ini mengubah doktrin pertahanan Korea Utara secara fundamental. Pasukan Kim Jong Un yang sebelumnya tertutup dan kaku kini memiliki pengalaman lapangan berharga yang tidak dimiliki generasi sebelumnya.
Dari perspektif Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Ketegangan di Semenanjung Korea kerap menjadi indikator stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Indonesia yang mengusung prinsip bebas aktif dan mendorong denuklirisasi semenanjung Korea tentu berharap latihan semacam ini tidak memicu eskalasi.
Menariknya, pendekatan berbeda ditunjukkan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Sejak menjabat Juni 2025, Lee menawarkan dialog tanpa prasyarat kepada Pyongyang. Namun hingga kini Korea Utara belum memberi respons atas tawaran tersebut.
Kendati demikian, Pyongyang mengecam latihan UFS sebagai gladi bersih untuk invasi. Kecaman ini menjadi pola yang konsisten setiap tahun, namun kali ini disampaikan di tengah situasi geopolitik yang jauh lebih rumit.
Hubungan Korea Utara-Rusia kini berada di titik tertinggi sejak Perang Dingin. Sebagai imbalan atas pasukan dan amunisi untuk mendukung perang Rusia, Pyongyang menerima bantuan finansial, makanan, energi, serta teknologi militer yang selama ini sulit mereka dapatkan.
Donald menambahkan, latihan gabungan bertujuan memastikan pasukan sekutu siap menghadapi segala kemungkinan. "Kami terus mengembangkan kemampuan untuk merespons taktik baru yang mungkin diterapkan lawan," tegasnya.
Ke depan, para pengamat memperkirakan Korea Utara akan semakin percaya diri menguji kemampuan baru mereka, baik di perbatasan maupun melalui provokasi siber. Bagi Korea Selatan dan AS, setiap pelajaran yang dibawa pulang tentara Korut dari Ukraina adalah ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak dini.