Internasional

Video AI K-Pop Anti-Narkoba Hong Kong Ditarik Usai Dinilai Justru Mempromosikan Zat Terlarang

Video AI K-Pop Anti-Narkoba Hong Kong Ditarik Usai Dinilai Justru Mempromosikan Zat Terlarang

Ringkasan

  • Otoritas Hong Kong menarik video kampanye anti-narkoba berbasis AI setelah karakternya dinilai justru mempromosikan penggunaan zat terlarang kepada publik.

Departemen Layanan Pemasyarakatan Hong Kong terpaksa menarik dan merevisi sebuah video kampanye anti-narkoba yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) setelah menuai kritik tajam dari warganet. Video berjudul “Obsession: The Sugar-Coated Trap” tersebut awalnya dirilis untuk memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai bahaya narkoba, namun justru dianggap memberikan kesan sebaliknya.

Dalam video tersebut, terdapat empat karakter virtual bergaya idola K-pop yang dibuat menggunakan teknologi AI dengan visual yang menarik dan busana modis. Karakter-karakter ini ditampilkan sedang bernyanyi dan menari, sebuah pendekatan yang sengaja dipilih untuk menarik perhatian kaum muda melalui tren budaya populer yang sedang berkembang saat ini.

Namun, kontroversi muncul ketika karakter bernama “Cannabis” menyampaikan dialog yang dianggap sangat tidak pantas untuk kampanye anti-narkoba. Karakter tersebut mengatakan bahwa dengan mengisap ganja, seseorang dapat melupakan segala kekhawatiran dan merasa lebih santai. Hal ini segera memicu reaksi negatif dari publik yang menganggap narasi tersebut justru terdengar seperti ajakan untuk menggunakan narkotika.

Tidak hanya itu, karakter lain yang dinamai “Ice” juga melontarkan pernyataan yang tidak kalah kontroversial. Karakter tersebut mengklaim bahwa mencoba zat yang ia wakili akan memberikan sensasi luar biasa hingga membuat jiwa seolah keluar dari tubuh. Deskripsi yang terdengar seperti promosi efek samping positif ini dianggap sangat berbahaya bagi audiens muda yang menjadi target utama kampanye tersebut.

Menanggapi gelombang protes di media sosial, departemen terkait segera menghapus video tersebut dari berbagai platform resmi mereka. Pihak otoritas mengakui bahwa pesan yang disampaikan dalam video tersebut telah menimbulkan salah interpretasi yang serius di mata masyarakat, sehingga tindakan koreksi segera dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Juru bicara departemen menjelaskan bahwa tujuan awal pembuatan video ini adalah untuk menunjukkan bahwa narkoba merupakan racun yang dibungkus dalam bentuk yang menarik atau 'sugar-coated'. Mereka berharap melalui metode kreatif berbasis AI, pesan peringatan dapat tersampaikan dengan lebih efektif. Sayangnya, eksekusi kreatif yang kurang tepat justru membuat pesan moral tersebut tenggelam oleh konten visual yang dianggap provokatif.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi instansi pemerintah dan pemasar di Indonesia mengenai pentingnya etika dan pengawasan konten berbasis AI. Penggunaan teknologi generatif harus dibarengi dengan kurasi narasi yang ketat agar pesan yang ingin disampaikan tidak disalahartikan oleh publik dan berbalik menjadi bumerang bagi reputasi organisasi.

Sumber Asli
Scmp
Tanggal
27 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit