Kit Chan, penyanyi asal Singapura, merilis lagu ikonik 'Home' dalam format vinyl untuk pertama kali dalam sejarahnya. Rilisan ini menjadi peristiwa istimewa karena lagu tersebut, yang menjadi anthem Hari Nasional Singapura sejak 1998, tidak pernah tersedia dalam bentuk fisik sebelumnya. Vinyl ini diproduksi oleh Art/st Records, sebuah studio khusus vinil potong latih yang didirikan pada 2025, dan masing-masing salinan ditandatangani langsung oleh Kit Chan.
Keunikan utama rilisan ini terletak pada bentuknya yang menyerupai pulau Singapura, dilengkapi dengan topper keramik HDB yang dibuat oleh pengrajin lokal The Potters' Guilt. Setiap salinan dibuat secara manual menggunakan mesin potong vinil vintage, menjadikannya karya seni sekaligus media musik. Harga ditetapkan sebesar S$198 atau sekitar Rp 2,2 juta, dengan pemesanan dibuka pada 9 Agustus mendatang.
Latar belakang proyek ini bermula dari keinginan Art/st Records untuk menghidupkan kembali warisan musik lokal Singapura dalam bentuk fisik. Didirikan oleh Charlyn Yap dan Lee Sin Yee, studio ini menggunakan mesin potong vinil stereo yang baru diperoleh untuk proyek perdananya. Yap menjelaskan bahwa produksi vinil lokal Singapura terhenti pada 1980-an, sehingga rilisan ini menjadi upaya untuk mengembalikan kenangan musik ke dalam bentuk nyata.
Proses pembuatan melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak. Untuk mendapatkan rekaman asli, tim Art/st Records menghubungi komposer lagu, Dick Lee, yang kemudian mengarahkan mereka kepada produser musik Sydney Tan. Tan membantu memastikan kualitas audio terjaga saat dipindahkan ke vinil potong latih. Kolaborasi ini menunjukkan semangat komunitas dalam melestarikan warisan budaya.
Kit Chan sendiri mengungkapkan kegembiraannya atas rilisan ini. Ia mengingat bahwa saat lagu pertama kali dirilis pada 1998, hanya berformat CD yang tidak dijual bebas ke publik. "Saya sendiri hanya memiliki satu CD single, dan tidak pernah ada rilis fisik yang tepat untuk lagu ini. Selalu didengarkan secara digital atau dipentaskan langsung," ujarnya. Vinyl ini, menurutnya, menjadi bentuk apresiasi yang istimewa.
Dari sudut pandang Indonesia, tren kebangkitan vinil juga terasa dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa artis lokal seperti Iwan Fals dan Sheila On 7 mulai merilis kembali lagu-lagu hits dalam format vinil untuk memenuhi permintaan kolektor. Namun, proyek berskala lokal yang menggabungkan desain unik dan kolaborasi pengrajin, seperti yang dilakukan Art/st Records, masih belum marak di Indonesia. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi label dan musisi Indonesia untuk menjaga warisan musik dengan pendekatan kreatif.
Rilisan ini juga mengangkat nilai nostalgia secara mendalam. Lagu 'Home' memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Singapura, mirip dengan lagu-lagu nasional di Indonesia yang sering menjadi pengikat kenangan kolektif. Dalam konteks industri musik, permintaan terhadap barang koleksi edisi terbatas terus meningkat, meskipun streaming digital mendominasi. Harga premium vinil ini menunjukkan bahwa nilai seni dan keunikan masih menjadi daya tarik tersendiri.
Charlyn Yap, pendiri Art/st Records, menyatakan bahwa proyek ini adalah "surat cinta fisik untuk Singapura". Ia menambahkan bahwa setiap detail, dari potongan vinil hingga ilustrasi album yang terinspirasi dari kehidupan Singapura tahun 1970-an, dirancang untuk merayakan sejarah lokal. Visinya adalah menciptakan rilisan serupa setiap Hari Nasional, membangun tradisi baru dalam industri kreatif.
Ke depannya, tren rilis vinil dengan konsep artistik diperkirakan akan terus berkembang, tidak hanya di Singapura tetapi juga di kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, minat terhadap vinil telah mendorong munculnya festival musik khusus dan toko-toko vinil independen. Namun, kolaborasi antara musisi, pengrajin, dan produser lokal dalam skala besar seperti ini masih menjadi peluang yang bisa digali lebih dalam.
Proyek ini menegaskan bahwa warisan budaya dapat diwujudkan dalam bentuk yang segar dan relevan. Bagi Indonesia, yang memiliki banyak lagu nasional dan hits ikonik, hal ini bisa menjadi model untuk melestarikan memori kolektif melalui inovasi format fisik. Dampaknya mungkin tidak langsung terukur, tetapi inspirasi untuk komunitas kreatif lokal sangat berarti.