Jakarta Utara – Wali Kota Jakarta Utara, Hendra Hidayat, menegaskan bahwa kompetisi Abang None 2026 bukan sekadar kontes kecantikan atau ketampanan, melainkan wahana pembinaan generasi muda yang kelak akan menjadi duta pembangunan kota. “Kegiatan ini bukan hanya memilih figur yang mampu tampil di atas panggung, melainkan menyiapkan generasi muda sebagai penghubung antara masyarakat, budaya, pariwisata, dan masa depan Jakarta,” kata Hendra dalam pidatonya di North Jakarta Intercultural School (NJIS), Jumat malam.
Jakarta Utara, menurut Hendra, memiliki karakter khas sebagai wilayah yang kaya akan sejarah dan keberagaman budaya. Kondisi ini menjadi modal penting dalam membangun karakter kota di tengah transformasi Jakarta menuju kota global. Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama pemerintah, dan peran Abang serta None diharapkan mampu memperkenalkan potensi Jakarta kepada masyarakat luas, termasuk di tingkat internasional. “Abang dan None adalah garda terdepan yang akan menunjukkan kepada dunia bahwa Jakarta memiliki talenta muda yang mampu bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.
Malam final kompetisi yang berlangsung di NJIS, Jalan Boulevard Bukit Gading Raya, Kelapa Gading, akhirnya crowned pasangan Farhan dan Cinta sebagai Abang None Jakarta Utara 2026. Mereka berhasil mengalahkan dua pasangan lain yang juga tampil memukau. Jaedan dan Celta meraih gelar Wakil I, sementara Aria dan Isyana dinobatkan sebagai Wakil II. Ketiga pasangan terbaik ini selanjutnya akan mewakili Jakarta Utara pada ajang Pemilihan Abang None Tingkat Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026.
Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Utara, Restuning Dyah Widyanti, menjelaskan bahwa seluruh finalis telah menjalani karantina dan pembekalan selama satu bulan. Selama masa tersebut, mereka menerima materi kepemimpinan, wawasan global, serta kemampuan komunikasi untuk membentuk karakter dan meningkatkan kapasitas diri. “Pemilihan Abang None merupakan bagian dari upaya pembinaan generasi muda agar mampu menjadi representasi pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif Jakarta Utara,” kata Dyah.
Dyah menambahkan, semangat “Bermula di Utara” diharapkan terus menjadi landasan bagi para finalis untuk berkontribusi dalam melestarikan budaya sekaligus mempromosikan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif Jakarta Utara. Ia juga menyoroti pentingnya transportasi publik yang memadai, seperti yang diungkapkan finalis sebelumnya, dalam memperkuat citra Jakarta di mata dunia.
Analis budaya dari Universitas Indonesia, Dr. Siti Rahayu, menilai bahwa kompetisi seperti Abang None dapat menjadi media efektif dalam memperkenalkan warisan budaya lokal ke generasi muda sekaligus menarik minat wisatawan. “Di era digital, duta generasi muda yang karismatik dan berpendidikan dapat menjadi brand ambassador yang kuat bagi destinasi wisata,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat pemuda Arief Budiman mengingatkan bahwa pembinaan generasi muda harus terus berlanjut pasca kompetisi. “Penghargaan hanya tahap awal; yang terpenting adalah bagaimana para pemenang tersebut mengimplementasikan nilai-nilai yang mereka pelajari dalam kehidupan nyata dan berkontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.
Ke depan, pemerintah kota berencana memperluas program serupa ke wilayah lain di Jakarta, dengan tujuan menciptakan duta-duta pembangunan yang konsisten di tingkat provinsi. Rencananya, para pemenang Abang None Jakarta Utara akan menjalani pelatihan tambahan di bidang kewirausahaan kreatif, sehingga mereka tidak hanya menjadi ikon pariwisata tetapi juga penggerak ekonomi lokal.
Dengan demikian, kompetisi Abang None 2026 tidak hanya menjadi ajang pencarian bakat, tetapi juga investasi jangka panjang bagi masa depan Jakarta yang lebih berbudaya, berdaya saing, dan inklusif.