Puluhan ribu pelanggan PAM Jaya di Jakarta Barat mulai menampung air bersih menyusul rencana perawatan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Hutan Kota yang berpotensi memutus aliran air selama lima hari, Jumat (17/7) hingga Rabu (22/7). Di Cengkareng, warga memanfaatkan ember, tong, hingga galon kosong untuk mengamankan pasokan harian mereka.
Dampak pemadaman tersebut diproyeksikan menyentuh 55.272 pelanggan yang tersebar di tujuh kelurahan Jakarta Barat. Selain Cengkareng Barat dan Cengkareng Timur, wilayah Kapuk Muara, Kamal Muara, Kamal, Pegadungan, serta Tegal Alur juga akan mengalami penurunan tekanan air hingga penghentian sementara. Pekerjaan pemeliharaan ini dilakukan pada fasilitas yang dikelola PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP).
Penyesuaian pasokan terjadi lantaran IPA Hutan Kota membutuhkan masa perawatan rutin agar kualitas dan distribusi air tetap handal. Direktur Operasional PAM JAYA Syahrul Hasan menyatakan bahwa selama proses tersebut, suplai dari IPA menuju jaringan distribusi akan dikurangi secara bertahap. Kondisi itu memicu risiko tekanan rendah hingga aliran mati di titik tertentu.
Perawatan instalasi pengolahan air sebenarnya bagian dari agenda pembaruan infrastruktur air ibu kota yang sudah berdecak usia. Jakarta selama ini bergantung pada beberapa IPA utama, dan setiap kali satu di antaranya berhenti beroperasi, wilayah hilir langsung merasakan efeknya. Hal ini menunjukkan betapa rentannya sistem distribusi air bersih ketika tidak didukung cadangan jaringan yang memadai.
Bagi warga, lima hari tanpa air bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan gangguan nyata terhadap rutinitas keluarga. Yanti (42), warga RT 08/RW 06 Cengkareng Barat, hanya memiliki tong dan ember serta empat galon kosong untuk menyimpan air. Ia khawatir persediaan tidak cukup jika pemadaman benar-benar berlangsung hingga Rabu depan.
Risma (37), tetangga Yanti, lebih beruntung karena rumahnya dilengkapi bak penampungan besar di bagian bawah bangunan. Dengan delapan anggota keluarga dari dua kepala keluarga, kebutuhan air mereka sangat tinggi untuk mandi, mencuci, dan memasak. Ia berharap pekerjaan selesai lebih cepat agar aktivitas harian tidak terhenti.
Kebijakan pemadaman terencana seperti ini sering memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan layanan darurat. PAM Jaya sebelumnya menyiapkan mobil tangki gratis sebagai langkah mitigasi saat perawatan serupa. Namun, akses terhadap layanan itu belum merata, terutama di gang sempit atau permukiman padat yang sulit dijangkau kendaraan berukuran besar.
Persoalan distribusi air di Jakarta juga memperlihatkan ketimpangan infrastruktur antarwilayah. Kelurahan yang dekat dengan sumber IPA cenderung lebih stabil, sementara area ujung jaringan seperti Tegal Alur kerap kali pertama kali kehilangan tekanan. Ketergantungan pada satu titik pengolahan membuat risiko krisis lokal meningkat setiap kali ada pemeliharaan.
Yanti mengaku akan membeli air keliling seharga Rp5.000 per jerigen jika cadangannya habis. Opsi lain adalah meminta air dari mushalla di seberang rumah yang masih menggunakan sumur tanah. "Jangan lama-lama lah, kan butuh air setiap hari," ujarnya menyoroti urgensi kebutuhan tersebut.
Risma menambahkan bahwa keluarganya bisa terhambat bekerja jika tidak dapat mandi pagi. "Besok, kerja takut enggak bisa mandi lagi pada nih," katanya. Pernyataan itu mencerminkan bagaimana gangguan utilitas dasar langsung berimbas pada produktivitas warga miskin kota.
Ke depan, PAM Jaya perlu mempercepat modernisasi jaringan dan membangun sistem by-pass antar-IPA agar perawatan satu instalasi tidak mematikan suplai di ribuan rumah. Edukasi kepada pelanggan mengenai jadwal pasti juga harus diperbaiki supaya warga bisa menampung air sejak lebih awal.
Pengalaman Cengkareng menjadi pengingat bahwa akses air bersih adalah hak dasar yang membutuhkan ketahanan sistem, bukan sekadar ketersediaan sumber. Tanpa perencanaan distribusi yang tangguh, setiap pemeliharaan rutin akan terus menjadi krisis bagi warga Jakarta Barat.
Pemerintah dan operator air harus memastikan mobil tangki serta titik penampungan publik tersedia di setiap RW terdampak. Langkah itu akan mengurangi beban warga kecil yang tidak memiliki toren atau bak besar di rumah mereka.