Puluhan ribu pelanggan PAM Jaya di Jakarta Barat akan menghadapi gangguan suplai air bersih mulai Jumat, 17 Juli, akibat perawatan instalasi pengolahan air. Tujuh kelurahan terdampak, dengan total sekitar 55.272 pelanggan harus menyiapkan cadangan air mandiri.
Di RT 08/RW 06, Cengkareng Barat, warga mulai menampung air sejak Kamis malam. Yanti, 42 tahun, mengandalkan tong, ember, dan galon bekas karena tidak memiliki toren. Ia memperkirakan persediaan hanya cukup untuk kebutuhan dasar beberapa hari ke depan.
Risma, tetangga Yanti, menghadapi tantangan lebih besar. Rumahnya dihuni delapan orang dari dua kepala keluarga. Beruntung, ia memiliki bak penampungan besar di bawah rumah yang sudah diisi penuh sebelum jadwal pemadaman.
Gangguan ini berawal dari rencana perawatan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Hutan Kota yang dikelola PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP). Pekerjaan tersebut memaksa PAM Jaya menyesuaikan distribusi air ke jaringan pelanggan selama lima hari.
Direktur Operasional PAM Jaya, Syahrul Hasan, menyatakan penyesuaian tekanan air berpotensi menurunkan debit hingga menghentikan aliran sementara. Wilayah terdampak meliputi Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Kapuk Muara, Kamal Muara, Kamal, Pegadungan, dan Tegal Alur.
Bagi warga perkotaan, ketergantungan pada air perpipaan menjadi risiko saat fasilitas publik menjalani pemeliharaan. Gangguan lima hari cukup lama bagi keluarga dengan aktivitas harian padat seperti mandi, memasak, dan mencuci.
Kondisi ini memunculkan ketimpangan kesiapan antarwarga. Rumah tangga dengan penampungan memadai lebih tenang, sementara keluarga tanpa toren harus membeli air keliling atau bergantung pada sumber alternatif seperti mushalla.
Di tingkat kota, peristiwa memperlihatkan urgensi penguatan infrastruktur air yang tahan gangguan. Jakarta dengan populasi padat membutuhkan sistem redundansi distribusi agar perawatan satu instalasi tidak melumpuhkan ribuan rumah.
Yanti mengaku akan membeli air keliling seharga Rp5.000 per jerigen jika cadangan habis. Opsi lain ialah meminta air dari mushalla di seberang rumah yang masih menggunakan air tanah. "Jangan lama-lama lah, kan butuh air setiap hari," ujarnya.
Risma khawatir anggota keluarganya tidak bisa mandi sebelum bekerja jika pemadaman berlangsung lama. "Kita keluarga besar, nyuci dan cuci piring bisa stop banget kalau air mati," katanya.
PAM Jaya sebelumnya menyiapkan mobil tangki gratis dan membagikan toren melalui program bersama TP PKK DKI. Langkah mitigasi itu membantu, namun jangkauan belum menyeluruh untuk seluruh pelanggan terdampak.
Ke depan, perawatan berkala IPA harus dibarengi komunikasi lebih awal dan penyediaan stasiun isi air darurat di tiap RW. Tanpa itu, gangguan rutin akan terus membebani warga kelas menengah ke bawah yang tak punya cadangan memadai.