Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi merilis peringatan dini terkait kemunculan Siklon Tropis Bavi yang terpantau bergerak di wilayah utara Papua pada Selasa (7/7). Fenomena cuaca ekstrem ini merupakan perkembangan dari bibit siklon 95W yang telah mencapai intensitas siklon tropis sejak 2 Juli lalu, dan kini telah memasuki wilayah monitoring Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta.
Berdasarkan data terkini, Siklon Tropis Bavi berada di posisi koordinat 16,2 Lintang Utara dan 140,0 Bujur Timur, atau berjarak sekitar 1.980 kilometer di sebelah timur laut Biak. Sistem ini bergerak ke arah barat dengan kecepatan mencapai 14 knots atau setara dengan 25 kilometer per jam, menjauh dari wilayah kedaulatan Indonesia.
Sistem tekanan rendah yang dikategorikan sebagai siklon kategori 4 ini memiliki kekuatan angin hingga 100 knots (185 km/jam) dengan tekanan pusat mencapai 935 hPa. BMKG memproyeksikan bahwa dalam 24 jam ke depan, intensitas siklon ini akan terus meningkat namun tetap mempertahankan arah pergerakannya ke barat, sehingga dampaknya terhadap wilayah Indonesia bersifat tidak langsung.
Meski bergerak menjauh, dampak tidak langsung dari siklon ini tetap perlu diwaspadai oleh masyarakat dan pelaku aktivitas kelautan. BMKG mengimbau adanya potensi gelombang tinggi yang diperkirakan mencapai 2,5 hingga 4 meter di berbagai wilayah perairan, termasuk Laut Maluku, Perairan Kepulauan Talaud dan Sangihe, serta sepanjang perairan Samudera Pasifik mulai dari utara Papua Barat hingga Jayapura.
Selain ancaman gelombang tinggi, wilayah daratan juga berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa angin kencang. Beberapa provinsi yang masuk dalam zona waspada meliputi Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Papua Barat. Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pohon tumbang atau kerusakan infrastruktur akibat terpaan angin kencang.
Pihak BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan Siklon Tropis Bavi dan akan memberikan pembaruan informasi cuaca secara berkala. Para nelayan, pelaku usaha pelayaran, dan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai diharapkan untuk selalu memantau kanal resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas di laut guna menghindari risiko kecelakaan pelayaran akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.