Berita

WNA India Dipenjara 2 Tahun Usai Curi Berlian S$200.000 di Chinatown

Ringkasan

  • WNA India dipenjara 2 tahun lebih di Singapura Jumat (17/7) karena curi berlian S$200.000 di Chinatown via tukar replika.

Seorang warga negara India divonis penjara dua tahun dua bulan dua minggu oleh pengadilan Singapura pada Jumat (17/7) karena mencuri berlian seberat 4,95 karat senilai S$200.000 dari toko perhiasan di Chinatown. Aksi tersebut dilakukan dengan modus menukar batu asli menggunakan replika palsu yang sudah disiapkan sebelum pelaku tiba di negara itu.

Terdakwa bernama Mangroliya Manojkumar Kurjibhai, 41 tahun, mengaku bersalah atas satu dakwaan pencurian. Ia bersama rekannya, Serasiya Milan Ramnikbhai, 30 tahun, nekat terbang ke Singapura khusus untuk menjalankan rencana yang terencana sejak di India. Keduanya sempat ditangkap di Bandara Changi sebelum sempat kembali ke negara asal.

Mangroliya dan Milan berkenalan melalui seorang teman bersama dan masuk ke Singapura menggunakan pas sosial. Sebelum keberangkatan, mereka memesan replika berlian di Surat, India, yang dibuat menyerupai spesifikasi dan nomor seri batu asli milik toko Dianoche. Cara mereka memperoleh data tersebut tidak dijelaskan dalam berkas pengadilan.

Rencana eksekusi dibagi sederhana namun rapi. Mangroliya bertugas mengalihkan perhatian manajer penjualan dengan meminta melihat sejumlah perhiasan lain. Di saat yang sama, Milan mengeluarkan batu palsu dari dalam mulutnya dan menukarnya dengan berlian asli yang kemudian disembunyikan di mulut pelaku.

Keduanya tiba di Singapura melalui Bandara Changi pada 19 Juni lalu. Sekitar pukul 15.00, mereka masuk ke toko Dianoche di Chinatown dan meminta melihat batu 4,95 karat tersebut. Tukar guling berlangsung cepat, namun terekam oleh kamera pengawas toko.

Usai keluar, manajer toko mengecek batu menggunakan mesin identifikasi optik dan menyadari bahwa benda tersebut palsu. Pasangan itu lantas kembali ke hotel, check-out lebih awal, dan memesan penerbangan ke India pada pukul 18.30 hari yang sama. Upaya kabur mereka gagal setelah ditahan di Terminal 3 Bandara Changi pukul 20.50 saat hendak melewati imigrasi. Berlian asli ditemukan dalam tas Milan.

Kasus ini menunjukkan betapa canggihnya modus kejahatan properti lintas negara yang memanfaatkan teknologi replika presisi. Di Indonesia, toko perhiasan besar di Jakarta dan Bali umumnya sudah menggunakan alat verifikasi gemstone portable, namun pelaku perjalanan internasional kerap menjadi celah pengawasan. Pengalaman Singapura layak jadi rujukan bagi pengusaha perhiasan lokal yang mulai kebanjiran turis asing pasca-pandemi.

Bagi pembaca Indonesia, cerita ini relevan dengan maraknya transaksi perhiasan online yang rentan penipuan serupa. Replika berlian buatan Surat, kota industri berlian di India, kerap masuk pasar Asia Tenggara melalui jalur tidak resmi. Kewaspadaan pengecekan batu menggunakan sertifikasi internasional seperti GIA menjadi mutlak bagi kolektor di Tanah Air.

Jaksa Yip Cheng Yee menekankan sejumlah hal yang memberatkan. Ia menyatakan bahwa kedua terdakwa datang ke Singapura murni untuk berbuat kejahatan. "Tindakan ini terencana matang, mulai dari pemesanan replika hingga kerja sama menghindari deteksi," ujar Yip dalam persidangan. Di sisi lain, Mangroliya lewat penerjemah memohon hukuman ringan karena memiliki dua anak di India.

Undang-undang setempat mengancam pelaku pencurian di dalam bangunan dengan hukuman maksimal tujuh tahun penjara dan denda. Vonis yang dijatuhkan lebih rendah dari batas maksimal, mengingat Mangroliya kooperatif dan mengakui perbuatannya. Rekannya, Milan, masih menunggu jadwal sidang pada Jumat mendatang.

Ke depan, otoritas Singapura diprediksi memperketat pemeriksaan pengunjung dengan pas sosial yang mencurigakan, terutama yang datang dari pusat industri berlian seperti Surat. Toko perhiasan di kawasan wisata juga akan meningkatkan penggunaan CCTV beresolusi tinggi dan alat identifikasi instan.

Tren kejahatan properti dengan modus subtitusi barang mewah berbasis cetak presisi kemungkinan bertambah seiring murahanya teknologi pemindaian. Pelaku industri perhiasan Indonesia perlu membangun jaringan pelaporan lintas toko agar pola pelaku asing cepat terdeteksi sebelum mereka meninggalkan negara.

Perspektif Indonesia: Teknologi pembuatan replika berlian presisi sudah masuk pasar Indonesia melalui importir tidak resmi, namun toko bersertifikat nasional seperti Indonesian Diamond Exchange mulai mewajibkan verifikasi ganda. Pembaca di Tanah Air, khususnya penggemar koleksi mewah dan olahraga prestisius seperti golf yang kerap jadi ajang transaksi perhiasan, harus waspada terhadap penawaran batu dengan harga di bawah pasar. Langkah preventif dari pengelola mal dan bandara Indonesia bisa mengadopsi sistem berbagi data dengan Singapura guna menekan modus serupa.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini relevan bagi komunitas olahraga prestisius Indonesia seperti golf dan tenis yang kerap menjadi ajang transaksi perhiasan mewah antar-anggota. Modus subtitusi berlian presisi menunjukkan ancaman nyata bagi atlet atau kolektor yang sering belanja di luar negeri. Pengelola turnamen dan klub di Tanah Air perlu meningkatkan kerja sama keamanan dengan pihak bea cukai. Implikasinya, verifikasi aset mewah akan jadi standar baru dalam ekosistem olahraga kelas atas.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
20 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit