Perdana Menteri kelima Republik China, Zhu Rongji, meninggal dunia pada Rabu (12/8) di usia 97 tahun. Kematianannya disetujui oleh Kantor Berita Pemerintah Xinhua, yang menyatakan bahwa ia meninggal di ibu kota Beijing karena sakit. Zhu dikenang sebagai arsitek reformasi ekonomi terbesar dalam sejarah modern China, yang mengubah lanskap ekonomi negara tersebut secara mendalam.
Dilaporkan oleh South China Morning Post (SCMP), Zhu Rongji tidak hanya dikenal sebagai pemikir ekonomi, tetapi juga sebagai sosok yang berani menantang struktur ekonomi terencana terpusat yang ada di China. Di bawah kepemimpinannya, sektor perusahaan milik negara yang tidak efisien direformasi secara agresif, bahkan hingga titik sehingga sekitar 40 juta orang kehilangan pekerjaan akibat penutupan perusahaan. Namun langkah-langkahnya itu justru membuktikan koreknya dengan kritikus-kritikusnya sendiri.
Salah satu pencapaian paling signifikan dalam karier politiknya adalah negosiasi masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001. Langkah strategis ini membuka pintu bagi China untuk terlibat lebih dalam perdagangan global, investasi asing, dan integrasi ekonomi dengan dunia internasional. Sejak saat itu, pertumbuhan ekonomi China menjadi salah satu fenomena paling mengejutkan dalam sejarah ekonomi modern.
Zhu juga dikenal memainkan peran penting dalam penanganan krisis keuangan Asia tahun 1997 dan 1998. Dengan kebijakan moneter yang ketat dan reformasi sistem keuangan, ia berhasil menstabilkan perekonomi China saat tetangganya mengalami krisis. Pada tahun yang sama, ia juga memastikan kelancaran penyerahan Hong Kong ke tanggung jawab China, sebuah momen bersejarah yang menandai akhir dari era kolonial di wilayah tersebut.
Di dalam partai komunis, pendekatannya yang tanpa kompromi dan tegas terhadap korupsi membuatnya mendapat pengagum sekaligus musuh. Banyak yang menjulukinya “perdana menteri tangan besi”. Lidahnya yang tajam, kecerdasannya yang tangkas, dan temperamen meledak-ledaknya mendukung popularitasnya di kalangan rakyat biasa. Pria kelahiran Provinsi Hunan ini lulus dari Universitas Tsinghua dengan gelar teknik elektro, lalu memulai karier di badan perencanaan negara.
Masa kecilnya penuh gejolak politik. Pada akhir tahun 1950-an, ia diusir dari Partai Komunis karena mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah. Sepuluh tahun kemudian, ia disingkirkan lagi selama Revolusi Budaya Mao Zedong. Namun setelah kematian Mao, Zhu direhabilitasi dan kembali bergabung dengan partai. Ia naik pelan-pelan melalui berbagai jabatan ekonomi hingga akhirnya menjadi walikota Shanghai pada 1988.
Pada 1991, ia ditunjuk untuk mengelola perekonomi sebagai wakil perdana menteri, lalu promosikan menjadi perdana menteri tujuh tahun kemudian. Dalam peran tersebut, ia berhasil menjinakkan inflasi yang meluas, mereformasi sistem perpajakan dan mata uang, serta memperkuat sektor keuangan nasional. Kebijakannya sering kali menuai kontroversi, terutama terkait pembubaran perusahaan milik negara yang menyebabkan PHK massal.
Meskipun demikian, bergabungnya China dengan WTO justru menjadi momen penting yang membuktikan kebenaran langkah-langkahnya. Integrasi ekonomi yang lebih luas membawa pertumbuhan yang luar biasa, menjadikan China salah satu mesin pertumbuhan terbesar dunia. Dalam kata pengantar antologi tulisan dan pidatonya, mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger memuji Zhu sebagai “pemikir yang tajam” yang “bergulat dengan salah satu program reformasi paling signifikan dalam sejarah modern.”
Bagi Indonesia, kematian Zhu Rongji mengingatkan betapa pentingnya reformasi struktural yang berani. Seperti China pada masa krisis 1997, Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi yang parah. Namun berbeda dengan pendekatan Zhu yang drastis, banyak kebijakan Indonesia yang bersifat bertahap dan terbatas. Pelajaran dari karier Zhu adalah bahwa transformasi ekonomi nyata memerlukan tekad politik yang kuat, bahkan jika harus menghadapi resistensi internal.
Reformasi sektor keuangan, pembentukan pasar modal yang kompetitif, dan liberalisasi perdagangan tetap menjadi tantangan bagi Indonesia. Sementara China berhasil merealisasikan visinya melalui integrasi global, Indonesia masih berjuang mencapai tingkat kedalaman reformasi yang sama. Kehilangan sosok seperti Zhu berarti kehilangan referensi bagi negara-negara berkembang yang ingin mereformasi ekonomi secara menyeluruh.
Meninjau kembali kebijakan Zhu, terutama pada masa-masa krisis, kita melihat pola tindakan yang pragmatis dan tidak mudah menyerah. Ia tidak takut mengambil keputusan sulit, sekalipun berdampak sosial yang signifikan. Dalam konteks global yang kini penuh ketidakpastian, kepemimpinan seperti itu menjadi nilai berharga. Bagi pembaca Indonesia yang tertarik pada dinamika ekonomi global, kisah Zhu Rongji adalah inspirasi maupun pengingat akan kompleksitas reformasi struktural.