Sebanyak 11 orang tahanan dilaporkan berhasil melarikan diri dari ruang tahanan Polres Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, pada Kamis (2/7). Insiden pelarian ini terungkap setelah video pemeriksaan kondisi sel yang kosong beredar luas di media sosial dan memicu perhatian publik terhadap standar keamanan di rumah tahanan kepolisian setempat.
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, para tahanan tersebut diduga melancarkan aksinya dengan cara merusak teralis besi pada ventilasi udara di bagian plafon sel. Setelah berhasil menjebol celah tersebut, mereka kemudian memanjat dinding bangunan yang cukup tinggi dengan memanfaatkan selang air sebagai alat bantu untuk meloloskan diri dari area rutan.
Kasi Humas Polres Kolaka Utara, Aipda Ahmad Syaiful, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan tindakan tegas untuk memburu para tahanan yang kabur. Hingga saat ini, pihak kepolisian baru berhasil mengamankan kembali satu orang tahanan, sementara 10 orang lainnya masih dalam status buron dan terus dilakukan pengejaran intensif.
Para tahanan yang melarikan diri diketahui terlibat dalam berbagai tindak pidana, mulai dari kasus pencurian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penyalahgunaan narkotika, penggelapan, hingga pencurian kendaraan bermotor. Keberagaman kasus ini membuat pihak kepolisian meningkatkan kewaspadaan dalam proses pencarian terhadap para pelaku.
Sebagai respons atas insiden ini, Polres Kolaka Utara telah mengerahkan personel gabungan untuk melakukan operasi pengejaran secara masif. Langkah yang diambil meliputi razia di titik-titik strategis, penyekatan akses jalan di wilayah sekitar, hingga penyisiran ke area pegunungan yang diduga menjadi lokasi persembunyian para tahanan yang masih melarikan diri.
Saat ini, pihak kepolisian masih mendalami bagaimana para tahanan tersebut bisa mendapatkan alat untuk memotong teralis besi dan mengapa tidak ada pengawasan yang cukup ketat saat aksi tersebut berlangsung. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan ruang tahanan kini menjadi prioritas utama guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan yang dapat mengancam keamanan masyarakat luas.