Sebanyak 14.000 tiket untuk 40 penayangan tambahan film Tiongkok berjudul 'Dear You' dalam bahasa Teochew dilaporkan habis terjual hanya dalam waktu tiga jam. Penjualan tiket yang dibuka pada Senin (29/6) pukul 15.00 waktu setempat melalui loket fisik dan kanal daring operator bioskop Golden Village (GV) ini mencerminkan antusiasme luar biasa dari penonton di Singapura.
Penayangan tambahan ini dijadwalkan berlangsung mulai 3 hingga 26 Juli di sejumlah lokasi strategis, termasuk GV VivoCity, Yishun, Bishan, Tampines, dan Jurong Point. Keputusan untuk menambah jadwal penayangan ini diambil oleh pihak GV dan distributor Clover Films setelah delapan penayangan awal dalam bahasa Teochew terjual habis dengan cepat sebelumnya.
Fenomena ini memicu antrean panjang di sejumlah gerai bioskop sejak satu jam sebelum loket dibuka. Pengguna media sosial melaporkan kepadatan yang signifikan di lokasi seperti GV Tampines dan GV VivoCity. Selain itu, platform pemesanan daring milik GV juga mengalami kemacetan lalu lintas pengunjung yang sangat tinggi akibat lonjakan permintaan tiket secara bersamaan.
Menanggapi respons publik yang sangat masif, pihak Golden Village menyatakan rasa terima kasihnya. Mereka mencatat bahwa penonton yang hadir terdiri dari beragam kelompok usia, mulai dari generasi muda hingga penonton lanjut usia yang memiliki keterikatan budaya dengan bahasa Teochew. Selain penayangan reguler, GV juga berencana bekerja sama dengan organisasi masyarakat untuk mengadakan 10 penayangan khusus.
Melihat permintaan yang belum surut, Clover Films dikabarkan telah mengajukan permohonan kepada Infocomm Media Development Authority (IMDA) untuk menambah 100 jadwal penayangan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa film yang disutradarai oleh Lan Hongchun tersebut memiliki daya tarik emosional yang kuat, terutama karena film ini menyentuh narasi sejarah migrasi etnis Tionghoa ke Asia Tenggara pada era 1940-an.
Keberhasilan 'Dear You' di pasar Singapura telah memicu diskusi yang lebih luas mengenai pelestarian dialek, identitas budaya Tionghoa, dan kebijakan bahasa di negara tersebut. Film yang mengisahkan pencarian jati diri lintas generasi ini telah menjadi salah satu kesuksesan komersial terbesar di Tiongkok tahun ini, membuktikan bahwa konten berbasis bahasa lokal atau dialek tetap memiliki pangsa pasar yang sangat loyal dan potensial.