Teknologi

20 Tahun Twitter: Jurnalis Al Jazeera Tetap Menolak Sebut X

Ringkasan

  • Jurnalis Al Jazeera Ali Hashem merayakan 20 tahun Twitter sejak 15 Juli 2006 yang membentuk liputannya, namun tetap menolak nama X pascaakuisisi Musk.

Pada 15 Juli 2006, Twitter meluncur secara publik. Dua dekade kemudian, platform microblogging itu telah mengubah wajah jurnalisme global, termasuk karier Ali Hashem, jurnalis senior Al Jazeera yang berbasis di Tehran. Hashem termasuk pengguna awal yang menandatangani akun setelah rekan di BBC menyebut layanan tersebut ibarat stasiun berita breaking news pribadi.

Pengalaman Hashem mencerminkan transformasi Twitter dari sekadar alat pesan singkat menjadi instrumen peliputan krisis. Ia memulai dengan cuitan acak soal gempa di Jepang, pemilu Lebanon, dan ledakan Somalia. Namun momen Arab Spring lalu Revolusi Libya Maret 2011 benar-benar membentuk kehadirannya di platform tersebut.

Latar belakang kelahiran Twitter tidak bisa dilepaskan dari evolusi internet pribadi. Hashem sendiri menjajaki dunia maya sejak 1995 lewat situs Angelfire dan 8m, namun saat itu belum ada ekosistem yang menopang suara individu. MySpace sempat hadir, lalu Facebook memunculkan kilatan, namun format Twitter yang real-time akhirnya memberi ruang bagi jurnalisme warga.

Titik balik pertama bagi Hashem terjadi pada 2009 saat Revolusi Hijau Iran. Bersama pengguna lain, ia menyaksikan Twitter membentuk narasi yang sangat berbeda dari media tradisional. Beberapa tahun sebelumnya, Salam Pax telah muncul sebagai blogger perang tersohor yang melaporkan invasi Irak, namun kini ribuan akun serupa lahir, termasuk Hashem.

Perkembangan tersebut bukan kebetulan. Arab Spring menjadi katalisator yang menempatkan Hashem dalam posisi untuk memposting dan menarik pengikut saat meliput dari lapangan. Pada Maret 2011, ia berada di Sallum, desa perbatasan Mesir-Libya, tanpa koneksi sendiri. Melalui telepon satelit Thuraya yang crackling, ia mendiktekan kalimat demi kalimat ke rekan di Kairo yang memasukkan ke akunnya.

Bagi pembaca Indonesia, dinamika ini familiar. Jurnalis tanah air juga menjadikan Twitter sebagai sarana peliputan pertama, terutama saat bencana alam atau peristiwa politik cepat. Nama burung biru itu melekat sebagai ruang publik digital, sebelum Elon Musk mengakuisisi dan mengganti menjadi X pada musim panas 2023.

Perubahan merek tersebut berdampak psikologis dan praktis. Di Indonesia, banyak redaksi masih mengandalkan Twitter untuk memantau arus informasi, namun penyesuaian algoritma dan penghapusan verifikasi massal membuat tugas tersebut makin rumit. Platform lokal seperti Koo sempat mencoba menarik pengguna, sementara Mastodon dan Threads tumbuh sebagai alternatif bagi mereka yang mencari stabilitas.

Di sisi lain, pengguna Indonesia kerap bersikap pragmatis. Meski antarmuka berubah, kebiasaan menyebut 'Twitter' secara lisan tetap dominan. Hal ini selaras dengan pengakuan Hashem yang hingga kini tetap melafalkan kata Twitter dalam bahasa Arab maupun Inggris, kendati ikon burung sudah tiada.

'Itu seperti memiliki platform berita breaking news sendiri, Anda yang menentukan agendanya,' kenang rekan Hashem di BBC. Sentimen serupa yang membuatnya tertarik mendaftar di tahun pertama. Kemudian, saat Musk mengubah nama dan membunuh burung biru pada 2023, Hashem hanya menulis lima kata: 'Someone buy Twitter and save the bird.'

Cuitan tersebut tidak membuahkan aksi penyelamatan, namun menggambarkan kedekatan emosional pengguna lama. Hashem mencatat bahwa melalui Twitter ia memecah berita perundingan nuklir Iran lebih cepat dari kantor berita besar, serta melaporkan serangan udara AS yang menewaskan Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis pada Januari 2020. Pada peringatan 100 tahun Perang Dunia I, ia menceritakan kakek buyutnya Ali Hashem yang tak kembali dari perang, serta pencarian makam di Palestina lewat rekan Al Jazeera.

Ke depan, masa depan X sebagai ruang jurnalisme warga semakin abstrak. Sejumlah analis memprediksi penurunan utilitas newsworthy seiring pergeseran prioritas pemilik baru ke arah super-app. Di Indonesia, migrasi bertahap ke platform lain seperti Threads mungkin terjadi, namun kecepatan adaptasi bergantung pada kebiasaan audiens yang sulit lepas dari layanan lama.

Hashem sendiri menutup refleksinya dengan keyakinan bahwa arsip akun di Twitter akan terus hidup melebihi pemiliknya. Ia menyelesaikan tesis magister tentang Twiplomacy yang meneliti diplomasi nuklir Iran. Baginya, dan mungkin bagi banyak jurnalis Indonesia, platform itu tetap Twitter, apa pun nama di ikon aplikasinya.

Mengapa Ini Penting

Perubahan identitas Twitter menjadi X bukan sekadar ganti merek, melainkan ancaman terhadap ekosistem informasi independen di Indonesia yang selama ini mengandalkan platform tersebut untuk verifikasi berita cepat. Ketergantungan redaksi lokal pada satu algoritma milik Musk membuat kerentanan jika tiba-tiba kebijakan moderasi berubah drastis. Masyarakat Indonesia perlu mempertimbangkan diversifikasi ke platform alternatif guna menjaga kebebasan sipil digital. Pengalaman jurnalis senior ini mengingatkan bahwa arsip dan memori kolektif di ruang maya bisa terpisah dari kendali pengguna.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit